Monday, March 6, 2017

,

Cerita Seks Cewek Jilboobs | Empat Minggu Surga Dunia 4 : Timun Ustazah Evi Apriliani dan Ustazah Aminah

Pada malam ketika Alif menginap di rumah Umi Habibah, tak lama setelah dia mengabari Ustazah Aminah bahwa dia tak bisa pulang karena hujan deras, Ustazah Aminah sudah tak bisa menahan birahinya. Dia sangat membutuhkan teman mengobrol, setidaknya supaya pikirannya tidak melulu ke area seks. Maka setelah jamaah sholat Isya, dia memutuskan untuk meminta ustazah Lia menemaninya nginap di kamarnya. 
Masih mengenakan mukenanya, mukena motif kembang-kembang, Ustazah Lia pun datang ke kamar Ustazah Aminah. 

“Maap ya, ukhti, umi merepotkan,” demikian basa-basi ustazah Aminah. Tangannya sibuk membubuhkan gula dan teh sementara dispenser berbunyi pertanda air sudah mulai memanas. Bunyinya masih agak keras, pertanda airnya masih belum sampai titik paling panas.
“Gak apa-apa, Umi, ana juga sedang gak ada kerjaan kok,” demikian jawab Ustazah Lia. Dia duduk santai di kursi, kakinya yang terutup kaus kaki panjang warna cokelat ditumpangkannya di atas kaki satunya. Tangannya menutupkan mukena menutupi kakinya yang sempat tersingkat saat tadi diangkat, lalu tangan itu menggapai majalah Ummi yang ada di meja.
“Syukurlah, kuatirnya Umi sih anti sedang sibuk,” Ustazah Aminah menatap selintas ke Ustazah Lia, tersenyum. Lalu suara pelan dari dispenser menandakan air sudah benar-benar panas.
“Enggak kok umi, santai saja,”
Ustazah Aminah kemudian datang ke kursi sambil membawa dua gelas teh panas. Dia duduk di kursi seberang ustazah Lia. Keduanya mengobrol beberapa saat. Sesekali Ustazah Lia menyelipkan guyonan sehingga membuat Umi Aminah tertawa-tawa.
Di luar sementara itu hujan deras diiringi petir sesekali. Hawa sangat dingin. Nampaknya seisi asrama pun sudah berdiam di kamarnya masing-masing. Cuaca semacam itu memang membuat siapapun malas melakukan apapun selain berhangat-hangat di balik selimut, ataupun ngentot.
“Umi, bagaimana kisah perkawinan Umi?” Pada akhirnya sampai juga ustazah Lia ke pertanyaan itu.
“Maksud anti?” Tanya ustazah Aminah. Dia sebenarnya sudah tahu bahwa yang dimaksud adalah perkawinannya dengan anaknya sendiri, Alif, bukan perkawinannya dengan Ustaz Karim, tapi dia mencoba mengalihkan. Justru tema itulah yang daritadi dia hindari, kuatir gelora seksnya justru kembali bangkit.
“Perkawinan umi sama Alif maksud ana. Baik-baik sajakah?” Ustazah Lia tersenyum. Dia sudah paham bahwa Ustazah Aminah sedang kangen Alif, apalagi pada cuaca seperti itu, tapi entah kenapa dia tertarik memancing-mancing gairah seksual Umi Aminah.
“Ooohhh,” jawab Ustazah Aminah. Diaduknya teh, kemudian diseruputnya nikmat. Kehangatan menjalar di tenggorokannya. “Baik-baik saja kok, ukhti.” Berhenti sejenak. “Ini dia tadi mengantar Umi Habibah, kemudian terjebak hujan gak bisa pulang.”
Ustazah Lia hanya mendengarkan sambil menatap Ustazah Aminah.
“Anak bodoh, dia lupa bawa jas hujan, padahal tahu sendiri cuaca seperti ini.” Demikian lanjut Ustazah Aminah.
“Yeee, Umi, gak baik lho bilang begitu ke suami sendiri,” kata Ustazah Lia setengah bercanda.
“Astagfirulloh, iya ya,” Ustazah Aminah mengusap muka.
“Hehe, yah maklum sih Umi. Lha gimana sakit umi sudah mulai sembuhkah?”
“Sudah kok ukhti, alhamdulillah.”
“Ahh, cuaca kayak gini ya umi,” kata Ustazah Lia sambil memandang ke luar dari balik jendela. “Enaknya ngapain kalau menurut umi?”
Ustazah Aminah sedikit deg-degan, tapi dijawabnya. “Ya ngeteh panas toh ukhti, apalagi coba?”
“Ehm, kalau yang sudah nikah enaknya....” Ustazah Lia senyum-senyum menggoda.
“Apa?” Ustazah Aminah paham maksud Ustazah Lia, tapi dia malah memancing.
“Umi pura-pura gak tahu hayoooo,” Ustazah Lia malah makin menggoda. Mulutnya menebarkan senyum nakal.
“Apa sih ukhti ini,” wajah Umi Aminah memerah. Walau bagaimanapun dia malu membahas hal semacam itu di depan ustazah Lia.
“Umi mukanya memerah, hihihii,”
“Ukhti ini,” Umi Aminah kehabisan kata-kata.
Ustazah Lia tertawa. Pada akhirnya Umi Aminah pun tertawa juga. Keduanya lalu melanjutkan obrolan mereka. Sedikit sedikit ada memang Ustazah Lia mengangkat tema seks, tapi masih dalam kadar sopan. Lebih banyaknya dia menggoda Ustazah Aminah. Di satu sisi Ustazah Aminah merasa terhibur juga, di sisi lain, dia sedikit jengkel karena birahinya makin menggelora dan dia makin merindukan anak kandungnya sekaligus suami sementaranya itu.
Keduanya mengobrol sampai sekitar pukul sembilan. Ketika melihat bahwa Ustazah Lia menguap berkali-kali, Ustazah Aminah bertanya:
“Sudah mengantuk ya Ukhti?”
“Iya nih umi, kok tumben ya jam segini. Kayaknya gara-gara hujan deh.”
“Yaudah tidur saja yuk. Ukhti temenin umi ya. Tidur di sini saja.”
“Baik, Umi,” jawab Ustazah Lia.
Jadilah keduanya tidur di ranjang Ustazah Aminah. Tidak terlalu lebar memang, tapi cukup untuk berdua. Lampu kamar dimatikan sehingga yang nampak hanya remang-remang dari lampu penerangan luar kamar. Keduanya berbaring mengenakan mukena. Ustazah Lia yang memang sudah mengantuk, setelah mengobrol beberapa saat di ranjang, dia kemudian terlelap.
Ustazah Aminah sementara itu melakukan ritualnya yang baru yang biasa dia lakukan sebelum tidur: memakai masker timun. Diambilnya satu timun dari piring di meja. Ada dua timun di sana. Lalu diiris-irisnya dan ditempelkannya irisan itu di beberapa bagian wajahnya, menyisakan satu setengah timun, lalu dia kembali membaringkan tubuhnya. Pada akhirnya dia pun tertidur sambil menahan-nahan gelora birahinya.
*
Jam setengah satu, Ustazah Aminah terbangun. Untuk sesaat dia tergeragap merasakan ada tangan yang melingkar di pinggangnya dan menyentuh perutnya. Sedikit berdesir perasaannya sebelum kemudian dia sadar bahwa itu adalah tangan Ustazah Lia. Posisi tidurnya yang menyamping membuat dia juga bisa merasakan tonjolan lunak menyentuh punggungnya. Dada ustazah Lia.
Dirasakannya enak tidur dengan ada yang memeluk seperti itu. lagi pula karena di balik mukena yang dipakainya dia dan juga ustazah Lia sama-sama tak mengenakan apapun, maka kehalusan kulit juga terasa. Hangat dan membangkitkan birahinya. Tanpa sadar, dia memundurkan tubuhnya sehingga tubuhnya semakin menempel erat ke tubuh ustazah Lia.
Dalam ingatannya kemudian terbayang andai Alif yang memeluknya, kontol besar yang siap menujah memeknya. Semakin dibayangkan, semakin bangkit birahinya. Refleks tangannya turun menyelinap ke balik mukenanya, mengusap-usap rambut kemaluannya.
“Uhhhh,” demikian tanpa sadar dia melenguh.
Tubuh Ustazah Lia bergerak sedikit. Ustazah Aminah merasakan kaki ustazah Lia bergerak ke depan menumpang kakinya. Gerakan itu membuat mukenanya sedikit tersingkap sehingga kini betisnya yang tertutup kaus kaki itu tertindih langsung oleh betis ustazah Lia yang juga tertutup kaus kaki.
Hangat, tubuh mereka makin erat. Pikiran ustazah Aminah makin melayang-layang. Setelah dipastikannya bahwa ustazah Lia masih tetap tidur, dia kembali mengusap-usap memeknya pelan. Nikmat, merem melek dirasakannya gelora syakhwatnya yang makin menggelora.
Tiba-tiba muncul pikiran aneh di otaknya. Perlahan ditariknya mukenanya ke atas, sedikit demi sedikit, sehingga sebatas paha kini terbuka. Kaus kakinya memang hanya sedikit di bawah lutut, maka ada bagian yang terbuka lebar kini antara lutut dan pangkal pahanya. Penerangan kamar yang remang-remang membuatnya tak malu, meski dirasakannya debar-debar yang aneh di dadanya.
Ustazah Aminah menghentikan gerakannya sebentar, memastikan bahwa Ustazah Lia tak terbangun oleh gerakannya. Setelah pasti, dia kemudian mengulurkan tangannya ke belakang, menarik mukena ustazah Lia ke atas juga perlahan-lahan. Saat melakukannya, dia tak menoleh melainkan hanya menggunakan feelingnya. Setelah dirasanya paha ustazah Lia sudah terbuka seperti dirinya, dia kemudian menggerakkan tubuhnya sedikit demi sedikit sampai kini paha sang ustazah tepat menumpang di atas pahanya. Kulit paha ustazah lia terasa halus menyentuh kulit pahanya. Sementara betisnya masih bersentuhan pula dengan betis ustazah lia yang sama tertutup kaus kaki.
Ustazah Aminah lalu kembali mengelus-elus memeknya. Bulu kemaluannya terasa merinding merasakan sentuhan tangannya sendiri itu. Terpikir olehnya kenapa dirinya bisa merasa bergairah seperti ini padahal dirinya tidur bersama dengan wanita, bukan dengan Alif.
Lalu terbersit dalam pikirannya untuk menonton satu video yang belum lama ini didonlodnya di hpnya. Diambilnya hpnya, kemudian dibukanya file itu. Sengaja dimatikannya sound hpnya supaya tak terdengar suara. Lalu disetelnya satu file.
Terdengar ustazah Aminah menarik napas berat. Video itu adalah video dua perempuan bercadar yang sedang saling merangsang. Perempuan yang satu mengenakan strapon, penis buatan yang ditempelkan di alat semacam ikat pinggang.  Keduanya saling berciuman, saling meremas payudara, saling menghangatkan tubuh.
Seperti dirinya kini dengan ustazah Lia.
Dirasakannya kemaluannya mulai dibanjiri cairan pelumas akibat birahi yang makin meningkat. Satu tangannya yang daritadi mengelus-elus memeknya sendiri tanpa sadar menyentuh klitorisnya.
“Uughhh,” tubuhnya mengejang seiring dengan lenguhan yang lumayan keras. Lalu dirasakannya tubuh ustazah Lia bergerak.
“Umi belum tidur?” dia terperanjat mendengar pertanyaan dari Ustazah Lia. Nampaknya dia terbangun karena mendengar lenguhannya.
“Eh, ana terbangun, Ukhti, barusan.” Jawab Umi Aminah agak tergeragap.
Tak disangkanya ustazah Lia malah sedikit menegakkan kepalanya, kemudian berbisik di telinganya. “Kangen suami ya Umi?”
Sebelum Ustazah Aminah menjawab, dirasakannya tangan Ustazah Lia menyelinap dari pinggangnya yang menyentuh ranjang, kemudian mengelus-elus perutnya. Sementara tangannya yang satu lagi menelusuri tangan ustazah Aminah yang menempel di memeknya sendiri, kemudian mengusap-usap rambut kemaluan ustazah Aminah.
“Ehh Ukhti, apa-apaan...” Ustazah Aminah tak menyelesaikan ucapannya. Matanya menutup merasakan birahinya yang langsung melonjak merasakan kenikmatan elusan ustazah Lia di memeknya. Kakinya bergerak membuat posisi kaki ustazah Lia semakin ketat merangkul kakinya.
“Memuaskan umi,” desah Ustazah Lia. Lidahnya menjulur menjilat-jilat cuping telinga Ustazah Aminah dari balik mukenanya.
“J j jangan ukhti, tidak boleh ini...uhhhhh...” demikian jawab Ustazah Aminah, melarang tapi diakhiri dengan lenguhan nikmat. Tubuhnya bergerak semakin merapat ke tubuh ustazah Lia.
Ustazah Lia tak berkata apa-apa, kakinya semakin mengunci kaki ustazah Aminah, digesek-gesekkannya betisnya yang tertutup kaus kaki ke betis ustazah Aminah. Tangannya bergerak ke atas dari perut ustazah Aminah, mengelus-elus dada sang umi dari balik mukenanya. Tangan itu bergerak memutar kemudian berhenti di puncak, mengelus-elus puting yang sudah mencuat dari tadi.
“Ukhhh, ukhti, gak bolehhhh,” desah Umi Aminah. Tubuhnya melengkung menahan birahi yang makin bergelora, tapi tetap tertahan oleh kuncian kaki dan tangan ustazah Lia. Rangsangan atas bawah yang dirasakannya adalah rangsangan yang sangat dirindukannya malam itu. tiga titik sensitif di tubuhnya, memek, dada, dan cuping telinga ketiganya dirangsang oleh Ustazah Lia.
Ustazah Lia hanya tersenyum. Ditariknya tangannya yang tadi mengelus-elus dada ustazah Aminah. Kemudian diusap-usapnya punggung melengkung ustazah Aminah. Sesekali dicium-ciumnya punggung itu, menimbulkan suara mendecap seperti orang mencicipi masakan lezat.
“Akhhh, ukhtiiii, sudah, uhhhh” Ustazah aminah kali ini melentingkan tubuhnya merasakan rangsangan di punggung. Tangan ustazah Lia yang satu lagi mengusap-usap area paha ustazah Aminah, membuat perasaannya semakin tidak karuan.
“Nikmati saja, Umiku,” bisik Ustazah Lia. Lalu dibalikkannya tubuh ustazah Aminah kali ini menyamping menghadap dia. Sebelum ustazah Aminah sempat bereaksi, kaki ustazah Lia sudah mengunci kaki ustazah Aminah dengan menumpangkan pahanya di atas paha ustazah Aminah rapat. Kemudian dengan liar dilumatnya bibir ustazah Aminah.
“Mmmmfffff,” hanya itu suara yang keluar dari mulut ustazah Aminah. Ciuman ustazah Lia dirasakannya sangat dahsyat, membangkitkan seluruh syaraf sensitif di bibirnya, ciuman seperti itu yang tadi dilihatnya di video di hpnya. Tanpa sadar tangannya memeluk pinggang ustazah Lia, mengeratkan tubuh mereka berdua. Ustazah lia sementara itu tangannya mengusap-usap punggung ustazah Aminah dengan tangannya, sementara bibirnya masih bergerak-gerak liar melumat bibir ustazah Aminah.
Di luar hujan turun semakin deras, berbeda dengan situasi di kamar itu yang semakin panas. Ustazah Lia melepaskan bibirnya kemudian menatap wajah ustazah Aminah. Nafas ustazah Aminah sudah terengah-engah dikuasai birahi. Ustazah Lia tersenyum, lalu kepalanya kembali mendekat dan....
“Ahhhhhh, aaaahhhh,” Ustazah Aminah mendesah panjang, tubuhnya kini dalam posisi telentang. Kepalanya mendongak merasakan bibir ustazah Lia kini melumat puting susunya. Mukena atasnya sudah tersingkap mengumpul di lehernya, dada dan perutnya kini terbuka menjadi sasaran bibir dan tangan ustazah Lia.
Kaki ustazah Aminah yang tertutup kaus kaki sampai ke bawah lutut itu menendang-nendang kemudian menekuk dan membuka seperti gerak perempuan yang sudah tak sabar ingin merasakan penis menembus memeknya. Ustazah lia yang kini ada dalam posisi membungkuk di samping tubuh terlentang ustazah Aminah semakin leluasa. Tangannya meraba-raba paha ustazah Aminah kemudian mengusap-usap bagian selangkangannya yang masih tertutup mukena.
“Adduhh, ukhti, akhh, akhhhh,” hanya suara birahi yang bisa dikeluarkan oleh ustazah Aminah, mulutnya membuka dengan air liur sedikit berleleran dari sudut bibirnya. Kedua puting susunya sudah basah oleh ludah ustazah Aminah dan secara bergantian masih dikenyot-kenyot membuat ukuran buah dadanya kian lama kian membengkak. Area perutnya pun tak kalah basahnya oleh jilatan lidah ustazah Lia yang binal.
Tak disangka oleh ustazah Aminah bahwa ukhti Lia yang mungil dan selalu nampak alim itu ternyata sangat ahli merangsang dirinya. Pada akhirnya dia sudah tak memikirkan apa-apa selain menikmati cumbuan terlarang dari sesama perempuan itu. tak ada lagi tersisa dalam pikirannya bahwa itu tak boleh. Dia hanya berpikir tentang syahwatnya yang harus dituntaskan saat itu juga.
Mukena yang dipakai ustazah Aminah sudah acak-acakan. Demikian juga yang dipakai ustazah Lia. Keduanya sudah tak perduli. Perut ustazah Aminah sudah terbuka, demikian juga bagian kakinya. Dari bawah ke betis hanya ditutupi kaus kaki, sementara mukena bagian bawahnya mengumpul di selangkangannya karena lututnya yang terangkat ke atas seperti posisi perempuan yang akan melahirkan.
Ustazah Lia menghentikan cumbuannya sejenak, ditatapnya wajah ustazah Lia yang juga sedang menatapnya dengan napas terengah-engah. Lalu wajah ustazah Lia turun dan lidahnya menjulur, menjilati liur ustazah Aminah yang berleleran dari sudut bibirnya.
“Umi, umi balikkan lagi tubuh umi, menyamping.” Kata Ustazah Lia. Umi Aminah hanya menurut, nafasnya seperti napas orang yang habis berlari jauh. Tak diketahuinya ustazah Lia kemudian mencopot bagian bawah mukena yang dipakai oleh ustazah Lia, kemudian disingkapkannya ke atas mukena bagian bawah yang dipakai ustazah Aminah. Dengan demikian, bagian paha sampai ke pinggul ustazah Aminah terbuka menampakkan kakinya yang menggoda. Hanya kaus kakinya yang masih menutupi betisnya.
Lalu ustazah Aminah merasakan ustazah Lia memeluknya dari belakang. Buah dada sang ustazah menyentuh kulit punggungnya membuatnya meremang. Lalu tangan ustazah Lia meremas-remas kedua buah dadanya yang membuncah, dari belakang. “Ukhh ukhhh,” desahan makin kerap keluar dari mulut ustazah Aminah. Air liurnya kembali berleleran membasahi bagian pinggir mukena di bagian mukanya.
Kemudian dirasakannya ada bulu-bulu menyentuh kulit pantatnya, dan bebuluan di tubuhnya meremang. Bulu kemaluan ustazah Lia. Terasa memberikan sensasi tersendiri yang membuatnya makin merasa nikmat. Lalu dengan posisi seperti itu, satu tangan ustazah Lia bergerak dari atas perut, menyosor ke bawah dan kemudian berhenti di memeknya, mengusap-usap bibir memeknya mendekati klentitnya.
“Ukhh ukhtiii, akhhh, akhhhh,” Tubuh ustazah Aminah mencoba menjauhkan diri dari tubuh ustazah Lia, akan tetapi satu tangan ustazah Lia yang meremas-remas dadanya membuatnya tak bisa ke mana-mana.
“Nikmat kan Umi?” goda ustazah Lia. Jemari tangannya menusuk-nusuk sedikit ke memek ustazah Lia,
“I ii Iya ukh aaaaaaaaaaaaaakhhh,” Ustazah Aminah mengakhiri jawabannya dengan pekikan panjang ketika jemari ustazah Lia menyentil-nyentil klentitnya. Serrrr, dirasakannya memeknya semakin dibanjiri oleh cairan kewanitaannya. Ustazah Lia semakin mengetatkan pelukannya. Lidahnya juga tak mau diam, menari-nari di cuping telinga ustazah Lia yang sudah basah berlumur ludahnya.
Suasana dalam kamar semakin panas. Remang-remang dari lampu luar kamar memberikan rangsangan tersendiri terutama karena keduanya nampak sebagai siluet yang sedang bergelut mencari kenikmatan.
Sambil terus merangsang ustazah Aminah, tangan ustazah Lia terjulur ke meja, meraih satu timun yang masih utuh. Timun jawa, hijau pekat dan besar panjang. Bersih karena memang sudah dicuci umi Aminah. Digenggamnya timun itu sementara bibirnya meraih bibir ustazah Aminah,melumatnya penuh gairah. Tubuh ustazah Aminah kini terlentang, sementara ustazah Lia menyamping. Ustazah Aminah membalas lumatan bibir ustazah Lia tak kalah bernapsunya.
Tangan ustazah Lia yang memegang timun bergerak perlahan, jari-jarinya mengusap bulu-bulu kemaluan ustazah Aminah membuat sang ustazah saleha itu menggerakkan pantatnya gelisah. Kakinya yang tertutup kaus kaki dengan posisi menekuk lalu membuka seperti posisi perempuan akan melahirkan. Lalu dengan sigap tangan ustazah Lia menempelkan ujung timun pada mulut kemaluan ustazah aminah.
Ustazah Aminah baru menyadari ada benda dingin menyentuh lubang kemaluannya. Dia akan menengokkan kepalanya tetapi mulutnya masih dikunci oleh mulut ustazah Lia. Sebelum dia bisa sepenuhnya menebak, tangan ustazah Lia sudah menekankan timun itu menusuk kemaluan ustazah Aminah.
“Hrngggghh,” Ustazah Aminah mengeluarkan erangan seiring tubuhnya melenting ke atas. Beruntung bahwa kemaluannya sudah dibanjiri cairan pelumas, meski demikian, timun itu terasa penuh juga menyumpal lubang kemaluannya.
Ustazah Lia lalu mengocok-kocokkan timun itu dengan gerakan cepat. Setiap tusukan seirama dengan erangan ustazah Aminah yang lambat laun merasa nikmat juga, seolah memeknya sedang benar-benar ditusuk oleh penis anak kandungnya yang dirindukannya malam itu. Ustazah Saleha itu sudah menjadi benar-benar liar karena gairah syahwatnya yang menggelora.
Posisi tubuh ustazah Lia kini bersimpuh di samping tubuh ustazah Aminah. Tangannya yang satu menusuk-nusukkan timun sementara tangannya yang satu lagi tak henti menggerayangi tubuh ustazah Aminah. Sesekali diraihnya buah dada sang umahat yang membuncah besar, diremasnya sambil disentil-sentilnya puting susunya yang mencuat diterangi remang lampu dari luar kamar.
“Aaaahhhh ahhhhh ahhhhh,” desahan terus keluar dari mulut ustazah Aminah. Tubuhnya tak bisa diam melainkan terus bergerak ke sana-ke mari seiring dengan gerakan tangan ustazah Lia yang terus merangsang kenikmatannya.
Lalu ustazah Lia berpindah posisi. Dikangkangkannya paha ustazah Aminah kian lebar, lalu dia mengambil posisi di tengahnya seperti posisi laki-laki yang akan menyetubuhi wanita. Tubuhnya bergerak meneduhi tubuh ustazah Aminah sampai wajah mereka sejajar berhadapan, sementara tangannya meraih-raih ke belakang, mencekal ujung timun yang separuh masih tertancap di memek ustazah saleha Aminah.
Dipaskannya ujung timun itu dengan mulut kemaluannya. Setelah dirasanya pas, dengan dibimbing tangannya yang satu, sementara tangannya yang satu menahan tubuhnya supaya tak jatuh menimpa tubuh ustazah Aminah, diturunkannya tubuhnya perlahan-lahan.
Mulut kemaluan ustazah Lia nampak merekah membuka menyambut timun yang makin masuk seiring tubuh ustazah Lia yang makin turun. Ustazah Lia memejamkan matanya merasakan kenikmatan. Kedua tangannya yang menumpu tubuhnya lalu ditekuknya, membuat tubuhnya makin turun merapat ke tubuh ustazah Aminah.
Ustazah Aminah merasakan tubuhnya bergetar menahan kenikmatan. Tekanan pada timun yang menancap di kemaluannya membuat rahimnya terasa hampir jebol. Lalu pada akhirnya bibir kemaluannya bersentuhan dengan bibir kemaluan ustazah lia, memek kedua ustazah Alim dari asrama syahamah yogya itu kini terkunci oleh timun besar dan panjang.
“Ukhhh, ukhti, ukhh, umi nikmattt, uuuuuuuuukhhhh,” Ustazah Aminah mendesah panjang. Ustazah Lia tersenyum, dia pun merasakan kenikmatan yang sama. Diturunkannya wajahnya dan kembali dilumatnya bibir ustazah Aminah. Kedua payudara mereka saling bergesekan, geli-geli nikmat. Lalu dicobanya menggoyang-goyangkan pantatnya membuat timun di kemaluan mereka berdua pun sedikit bergerak-gerak memberikan kenikmatan yang makin tinggi.
Mereka melakukan posisi seperti itu tak lama. Ustazah Lia memiliki ide lain. Dia mengangkat pinggangnya ke atas dengan memek masih menyatu. Lalu diremas-remasnya buah dada ustazah Aminah dengan kasar menggunakan kedua tangannya.
“Ukhh ukhtii ukhtii, apa apppp, ukhhh ukhtiiii, auhhhhhh,” Umi Aminah menjerit-jerit merasakan serangan tak terduga itu. Memeknya yang masih tertancapi timun dan tertekan tubuh ustazah Lia terasa mulai berdenyut-denyut tanda orgasmenya hampir tiba.  Pantatnya bergerak-gerak makin gelisah.
Lalu ustazah Lia memundurkan tubuhnya. Ploppp, memeknya kini terbebas dari timun yang nampak menyembul separuh keluar dari memek ustazah Aminah. Timun itu nampak basah oleh cairan kemaluannya.
Dia kemudian menurunkan kepalanya. Dijiliat-jilatnya lendir pada timun itu sambil mendecap-decapkan mulutnya. Ustazah Aminah melihat tingkah laku ustazah lia dengan desiran-desiran aneh di dadanya. Orgasmenya terasa makin dekat, dia merasa gairahnya kian memuncak.
Kedua tangan ustazah Lia meremas-remas kedua bongkah pantat ustazah Aminah. Sementara mulutnya membuka, kemudian mencaplok timun itu dan digerak-gerakkannya seperti tingkah mulut yang sedang mengoral penis. Sesekali dilepaskannya mulutnya lalu dengan lidahnya dijilat-jilatnya klentit ustazah Aminah.
“Auhhhhhh, uhhhh,” tubuh ustazah Aminah bergerak-gerak kian gelisah. Kepalanya mendongak ke atas, tangannya erat-erat mencengkram seprai. Gerakan mulut ustazah lia yang maju mundur membuat timun itu bergerak-gerak di memeknya, makin dalam makin dalam....
“Akhh ukhti, umi gak tahan, akhh, akhhhh, auhhhhhhhhhhhhhhhhhhh,” dengan lolongan tinggi, ustazah Aminah mencapai orgasmenya. Tangan ustazah Lia memegang erat-erat bongkahan pantat ustazah Aminah. Tubuh ustazah Aminah mengejang, kemudian tersentak-sentak seiring dengan suara lenguhan tak jelas dari mulutnya. Kepalanya mendongak ke atas, air liurnya berleleran tak tertahankan, membasahi bantal dan mukenanya yang kian kusut tak karuan.
“Ploppp,” setelah ustazaha aminah reda puncak kenikmatannya, ustazah Lia mencabut timun itu dengan menggigit bagian yang menjulang ke luar. Sekali lagi tubuh ustazah aminah mengejang. Lalu ustazah Lia kembali memposisikan tubuhnya di atas tubuh ustazah Aminah. Memeknya pas di atas memek ustazah Aminah, membuat sang ustazah alim itu langsung merapatkan pahanya menjepit kedua paha ustazah lia dengan refleks.
Lalu ujung timun yang tadi menusuk-nusuk memek ustazah Aminah tepat disodorkan oleh ustazah lia yang menggigit ujung satunya, di mulut ustazah Aminah. Ada tetes-tetes lendir seperti air liur berjatuhan dari ujung timun itu ke mulut ustazah aminah. Dia tahu apa yang diinginkan ustazah lia.
Happp, tanpa merasa jijik, ustazah lia pun membuka mulutnya hingga kini posisi timun itu sama dengan tadi, bedanya jika tadi yang menjepitnya adalah memek dua ustazah alim, kini yang menjepitnya adalah mulut. Kress kress kresss, keduanya seolah berlomba menghabiskan timun itu. Ustazah aminah merasakah sensasi tersendiri dengan kenakalan ustazah lia itu dan dia entah kenapa menyukainya.
Akhirnya timun itu habis dan mulut keduanya langsung saling melumat dengan liar, sementara pantat mereka saling bergerak membuat memek mereka saling bergesekan memberikan kenikmatan tersendiri yang selama ini tak pernah dibayangkan ustazah aminah.  
“Gimana umi? Enak kan?” Goda ustazah Lia setelah mulutnya terbebas dari mulut ustazah Aminah.
Ustazah Aminah mengangguk lemah. Orgasme dan cumbuan yang lumayan lama sudah menguras tenaganya. Tangannya mengusap-usap bahu ustazah Lia. Ustazah Lia meraih tangan itu, kemudian menciumnya.
“Umiku,” bisik ustazah Lia.
“Kamu benar-benar nakal, ukhti,” bisik Ustazah Aminah.
Ustazah Lia menatap wajah ustazah Aminah. Kemudian keduanya sama-sama tersenyum. Wajah ustazah Lia turun mendekati wajah ustazah Aminah, semakin dekat, semakin dekat, kemudian bibir keduanya kembali bertemu. Ustazah Aminah memejamkan matanya menikmati bibir seksi sang ukhti. Nikmat dan hangat.
Setelah mencium bibir ustazah Aminah mesra, ustazah Lia kemudian membaringkan tubuhnya di samping tubuh ustazah Aminah, menyamping. Tangannya memeluk perut ustazah Aminah yang tertidur terlentang. Tak mereka pedulikan kasur yang basah oleh keringat mereka dan air liur serta cairan orgasme memek ustazah Aminah. Di luar hujan semakin deras, tapi di dalam keduanya saling berpelukan merasakan kehangatan setelah puncak kenikmatan yang dicapai ustazah Aminah.
*
Subuh, di dalam kamar mandi di kamar Ustazah Aminah. Ustazah Aminah sudah pergi ke Mushola. Ustazah Lia dan Alif sedang bersetubuh di kamar mandinya dengan liar.
“Ngghhh, ngghhh, uhhh,” lenguhan tertahan Ustazah Lia terdengar di kamar mandi, berpadu dengan dengusan nafas Alif yang terus menusukkan penisnya di vagina Ustazah binal bertubuh mungil itu. Kamar mandi itu memang lumayan luas, punya bak mandi dan juga shower. Posisi Ustazah Lia saat itu menungging dengan tangan memegang pinggiran bak mandi sementara Alif menggenjotnya dari belakang.
Tangan Alif menjambak rambut basah Ustazah Lia sampai kepalanya mendongak. “Ughh, lonteku, gimana rasanya lonteku, ughhh,” Alif meracau liar di sela kenikmatan yang menyebar dari pucuk penisnya ke sekujur tubuhnya. Vagina Ustazah Lia terasa sempit menjepit penis besarnya. Nikmat, ditambah dengan sensasi tubuh basah yang licin berlumur sabun.
“Teruss, uhh, terussshhh,” desah Ustazah Lia.
“Terus apa lonteee?” Alif sedikit menarik rambut Ustazah Lia seperti menarik tali kekang.
“Terus enttotttt, uhhh, nikkmatnya, ukhhh,” Jawab ustazah lia setengah berteriak.
Ploppp ploppp, bunyi kontol Alif menusuk-nusuk memek ustazah lia terdengar berirama. Kaki ustazah Lia sudah mulai goyah merasakan kenikmatan yang makin bergelora dalam tubuhnya.
Saat itulah Alif mendadak mempunyai ide gila.
“Kenappa?” dengan napas terengah-engah ustazah lia menoleh ke Alif yang menarik penisnya dari vagina ustazah lia. Ditatapnya penuh tanya dan sesal. Yang diharapkannya hanyalah birahinya segera terlampiaskan, dia sudah tak peduli dengan statusnya sebagai ustazah.
Alif hanya tersenyum nakal.
“Owww,” Ustazah Lia memekik ketika Alif mendadak menarik shower dan menyemprotkannya ke tubuhnya. Tanpa mengatakan apapun Alif membersihkan tubuh ustazah Lia yang menggeliat-geliat geli ketika merasakan tangan alif kembali menelusuri tubuh telanjangnya. Setelah bersih, Alif membisikkan sesuatu di telinga Ustazah Lia.
Mendengarnya mata ustazah Lia membeliak seolah tak percaya.
“Ayolah,” kata Alif menanggapi. Akhirnya ustazah lia mengangguk. Dia kemudian mengeringkan badannya dengan handuk, kemudian mendahului keluar dari kamar mandi, sementara Alif juga mengeringkan badannya dengan handuk yang sama.
Ustazah Lia kemudian mengambil mukenanya dan memakainya tanpa mengenakan dalaman apa pun. Dipakainya juga kaus kakinya. Saat itu dari mushola asrama terdengar iqomat tanda di sana jamaah sholat subuh akan segera dimulai. Alif kemudian mengintip kondisi mushola yang kelihatan dari jendela kamar. Kemudian dia menarik tangan ustazah lia. “Ayo,” katanya.
Keduanya berjalan mengendap keluar dari kamar. Sekitar masih gelap, asrama sepi, sebab semua wajib mengikuti jamaah di mushola. Ustazah Lia berjalan diikuti Alif yang telanjang. Penisnya tegang bergoyang-goyang seiring dia berjalan. Ustazah Lia merasakan debar-debar yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang membayangkan pengalaman yang akan terjadi nanti.
Di mushola itu, barisan jamaah menyisakan satu orang ukhti yang bertempat di deretan paling belakang. Masih ada ruang yang cukup di belakang sang ukhti karena mushola itu memang lumayan luas, sementara pintunya pun ada dari belakang dan juga dari samping bagian depan.
Alif menyuruh ustazah Lia berhenti di pintu mushola bagian belakang itu. Dengan posisi berdiri, ditusukkannya kembali penisnya ke memek ustazah Lia.
Ustazah Lia berusaha bersusah payah menahan rintihan supaya tak keluar dari mulutnya. Saat itu suara umi Aminah sedang membacakan surat terdengar jelas. Dibayangkannya ustazah Aminah yang tadi malam merintih-rintih menahan kenikmatan bersamanya.
Tusukan penis Alif di memeknya terasa makin garang. Ada sensasi tersendiri bersetubuh di sana sementara semua penghuni asrama syahamah tak ada yang tahu dan sedang menunaikan sholat subuh.
Saat jamaah rukuk, Alif menyentakkan tubuh ustazah lia supaya ikut rukuk sementara penisnya terus menerus menusuk memek ustazah lia dengan gencar. Pergerakan itu ditambah dengan sensasi bersetubuh di sana membuatnya merasa orgasmenya tak akan lama lagi.
Lalu saat yang lain sujud, posisi persetubuhan mereka pun kini berganti doggy style. Tubuh keduanya kini ada di dalam mushola, tak jauh di belakang ukhti yang ada di barisan paling belakang sendiri. Dalam posisi doggy itu, penis Alif keluar masuk dengan gencarnya.
“Siapa kamu ukhti, jawabbb!” bisik Alif sambil terus menusuk ustazah lia dengan posisi doggy. Mulutnya berbisik tepat di telinga ustazah Lia.
“A...aku Ustazah Evi Apriliaa...” jawab Ustazah Lia dengan berbisik juga. Matanya terpejam merasakan denyar-denyar kenikmatan di sekujur tubuhnya.
“Ustazah Lia lonteku,” bisik Alif lagi.
“Iyyyaahhh, Evi Aprilia lontemu. Entot aku, entot akuuuu...” hampir saja ustazah lia kelepasan berteriak. Kenikmatan yang dirasakannya hampir tak tertahankan. Belum pernah sebelumnya dia merasakan kenikmatan seperti yang sekarang sedang dialaminya.
Alif mengertakkan rahangnya. Penisnya terasa mengembang di dalam memek ustazah lia. Ada empotan-empotan dari lubang kenikmatan itu membuat dia makin tak yakin orgasmenya masih lama. Dinding-dinding memek ustazah Evi Aprilia juga dirasakannya terasa kian sempit saja, hangat dan menjepit.
“Ukhhh, ukhh, aku hamppir kelu...arrr Evi lontee,” bisik Alif di telinga ustazah Lia. Ustazah Lia hanya mengangguk, perasaannya sudah tak tergambarkan, kenikmatan di tubuhnya pun sudah hampir meledak. Vaginanya sudah sangat banjir siap mencapai puncak kenikmatan.
“Ahkkk,” Ustazah Lia menutup mulutnya ketika dirasakannya puncak itu datang seiring dengan tusukan Alif yang menerobos sangat dalam mentok ke ujung rahimnya. Matanya membeliak dan ada air liur menetes dari mulutnya yang menganga. Alif memegang kuat-kuat tubuh ustazah itu supaya tak menggelepar-gelepar yang mungkin menimbulkan kecurigaan seorang ukhti yang sholat di deretan paling belakang.
Setelah tubuh ustazah lia mengendor, Alif mengendorkan pula pegangannya. Kemudian perlahan dicabutnya penisnya yang penuh berlumur cairan memek ustazah lia. Ustazah lia berposisi bersujud dengan kepala di lantai, merasakan sisa-sisa kenikmatan pada kedutan-kedutan di vaginanya yang belum sepenuhnya berakhir.
Dilihatnya Alif berdiri, mengocok kontolnya sambil memandang liar deretan ukhti yang memakai mukena sedang siap bersujud. Wajahnya menegang. Kemudian tanpa disangka-sangka, Alif menghampir ukhti yang berada sendirian di deretan paling belakang, saat sujud pertama, tanpa mencurigakan, Alif membungkuk dan memegang ujung mukena lebar sang ukhti, kemudian ketika ukhti itu bersujud, seolah oleh gerakan tubuh sang ukhti, tangannya menarik pelan ujung mukena itu ke atas.
Akibatnya, ujung mukena ukhti itu tersampir ke bagian pantatnya yang menungging. Mata Alif terbeliak, puncak kenikmatannya dirasakannya makin dekat saat dilihatnya sang ukhti tak memakai celana dalam, dan dengan posisi ujung mukena seperti itu, belahan memeknya nampak jelas, terbuka ke samping karena kakinya yang membuka.
Sambil dikocoknya penisnya makin keras dengan bantuan pelumas cairan kewanitaan ustazah lia, ditatapnya belahan memek itu sambil berusaha menahan napas. Ada bullu-bulu jarang tumbuh di sekitarnya. Kemudian, saat ukhti itu sujud untuk kedua kalinya, Alif kembali melakukan hal yang sama, menyampirkan mukena itu ke pantatnya. Dia tahu, salah satu kebiasaan ustazah aminah adalah sujud terakhir pasti lebih lama.
Akhirnya dia mengambil posisi seperti akan mendoggy sang ukhti, tanpa menyentuhnya. Kontolnya menegang sempurna, hampir dia kelepasan menggeram. Ustazah Lia menatap pemandangan itu dengan deg-degan atas kenekatan Alif.
Alif memegang kontolnya kuat-kuat, matanya melotot menatap belahan memek itu, kemudian, crott crottt, crrrroooootttt, penisnya menyemburkan sperma dengan derasnya tepat mengenai belahan memek sang ukhti. Pemiliknya nampak mengejang sesaat, tapi karena ustazah aminah masih sujud, dia tak bergerak. Nampak sperma Alif membasahi belahan memek itu, sebagian menetesi bagian mukena yang lain yang menyentuh lantai.
Croottt crottt, crottt, kepalang tanggung, Alif mengarahkan spermanya ke punggung sang ukhti, dengan arah mendatar, supaya tak terasa menekan. Kemudian ustazah aminah bangkit dari sujudnya dan sang ukhti pun mengangkat tubuhnya. Sperma alif yang ada di punggungnya mengalir perlahan ke bawah, berhenti pada lipatan mukena bagian bawahnya, tepat di atas pantat.
Tanpa suara, Alif kemudian pergi dari mushola dibarengi oleh Ustazah Lia. Sementara ustazah lia langsung pergi ke kamarnya, Alif juga pergi ke kamar dia. Membersihkan dirinya di kamar mandi, kemudian tanpa memakai apapun, dia memanaskan air dispenser dan menunggu sang umi kembali dari mushola. Setelah petualangan yang mendebarkan barusan, dia masih merindukan memek ustazah Aminah yang binal itu. 

Foto Jilboobs Terbaru

Kartun & Hentai Jilboobs Terbaru

Cerita Seks Jilboobs Terbaru