Saturday, February 11, 2017

,

Cerita Seks Cewek Jilboobs | Empat Minggu Surga Dunia 3 : Semalam Di Ruma Umi Habibah

Ketika Ustazah Aminah dan Alif sampai di depan kamar, nampak seorang wanita menunggu sambil duduk di kursi depan kamar. Wanita itu mengenakan hijab berwarna ungu yang gombor sampai ke pinggul. Karena posisinya duduk dengan tumpang kaki, maka hijabnya itu menutupi kedua kakinya juga. Baju gamis yang dikenakannya berwarna senada. Wanita itu memakai kaca mata.
Ustazah Aminah sambil tersenyum menghampirinya. Wanita itu bangkit dan kemudian menyodorkan tangannya lebih dahulu. “Perkenalkan ana Habibah, dosennya ukhti Nani.”
Ustazah Aminah menerima sodoran tangan itu. “Mari-mari masuk, ukhti, maap menunggu lama.”
Mereka kemudian masuk. Alif sengaja masuk ke kamarnya dan tidak ikut ke dalam kamar ibunya, supaya nampak sopan. Maka yang duduk di kursi di kamar ibunya itu hanya Ukhti Nani, bu Dosen Habibah, dan Ustazah Aminah.
Ustazah Aminah langsung membuatkan teh untuk tamu-tamunya. Setelah itu barulah perbincangan mereka diteruskan.
“Begini, Umi, ana mendengar cerita dari ukhti Nani ini seputar peraturan di asrama yang nampaknya janggal menurut ana. Ini pertama kali ana ke sini, dan terus terang ana jadi penasaran ingin mendengar cerita dari umi langsung.” Begitu Dosen Habibah membuka percakapan.
“Oh begitu,” Ustazah Aminah menoleh ke arah ukhti Nani yang menundukkan kepalanya. “Aturan yang tentang berpakaian ya ukhti?” Ustazah Aminah mengajukan pertanyaan pada ukhti Nani.
“Iya, Umi,” bu Dosen Habibah yang menjawab.
“Sebentar, bu Dosen ini sepertinya saya pernah lihat ya? Apa bu dosen aktif di organisasi keakhwatan?” Ustazah Aminah membelokkan percakapan sambil menatap tamunya.
Bu Dosen Habibah mengangguk. “Ana menjabat sie. Humas, umi, sudah setahun ini.”
“Sebentar, sebentar,” Ustazah Aminah nampak kaget. “Jadi, umi Habibah ini istrinya Abu Fawaz ya?”
Umi Habibah nampak tercengang. “Iyya, umi, ana istri keduanya. Kok umi kenal abi?” yang dimaksud “abi” oleh Umi Habibah adalah “Abu Fawaz”.  
“Alhamdulillah, ukhti ukhti, pantesan ana kok seperti merasa sudah kenal sama antum.” Ustazah Aminah tersenyum lebar. “Ana menjabat sebagai,” Ustazah Aminah menyebutkan jabatannnya yang lebih tinggi daripada Umi Habibah. “Ana juga sahabat karib Abu Fawaz dan juga sahabat dekat istri pertamanya, Umi Lilik.”
“Ohhhh, maapkan ana, umi, tak mengenali senior,” Umi Habibah nampak sedikit malu. “Maklum ana lebih banyak bergerak di belakang, tidak gabung di rapat-rapat gitu.”
“Enggak apa-apa, Umi, maklum umi juga kan baru pertama kali ini ke sini, dan kita jarang berinteraksi di organisasi.” Ustazah Aminah tersenyum. “Lagipula sepak terjang Umi Habibah ini sudah sering dibicarakan kok di rapat-rapat organisasi. Dahsyat sekali pokoknya umi.”
Alif sementara itu menguping dari pintu penghubung kamarnya. Dia nampak merenung-renung kemudian tersenyum. Didengarkannya obrolan selanjutnya yang semakin ramai, tapi bukan membahas tentang niatan awal umi habibah ke asrama, melainkan membahas seputar organisasi akhwat. Diam-diam Alif memuji kecerdikan uminya.
Dua jam kemudian Umi Habibah pamitan tanpa menyinggung sama sekali tentang niatan awalnya pergi ke asrama. Ukhti Nani tampak ingin bertanya tetapi dia segan. Sementara ustazah Aminah hanya senyum-senyum saja.  
“Emm, ukhti Nani ini sering bantu-bantu di rumah ana, umi, maklum ana tinggal sendiri, mohon izinnya ya,” demikian kata Umi Habibah.
“Oh, gak apa-apa, umi, kita ini keluarga, gak apa-apa, kapan saja umi butuh bantuan ukhti Nani silahkan, Kegiatan asrama fleksibel kok sifatnya, umi.” Ustazah Aminah menjawab ramah. “Umi belum punya momongan ya?”
“Belum, umi,” jawab umi Habibah. 
“Oya, umi tadi ke sini naik apa?”
“Ana naik angkutan umum, umi...”
“Begitu, Lif Alif,” Ustazah Aminah memanggil Alif. “Antarin Umi Habibah ke rumah ya,”
Alif muncul sudah dengan penampilan rapi. “Iya Mi,” kemudian dia menangkupkan tangannya di dada sambil tersenyum ke arah Umi Habibah. Sebuah cara mengucapkan salam yang wajib di organisasi akhwat. Umi Habibah membalas salam itu dengan menganggukkan kepala dan menangkupkan tangan dengan cara yang sama.
“Ah gak usah umi, merepotkan,” sahut Umi Habibah basa-basi. Sebenarnya dia senang-senang saja diantar, karena bagi akhwat seperti dia kadang merasa risih juga naik angkutan umum.
“Enggak, enggak merepotkan kok, biar sekalian Alif tahu rumah umi, jadi kalau kapan-kapan ana mau silaturahmi kan mudah,” Ustazah Aminah memberikan alasan menguatkan yang sukar ditolak oleh Umi Habibah.
Akhirnya Umi Habibah pulang ke rumahnya dengan diantar oleh Alif. Sementara ukhti Nani kembali ke kamarnya, sedikit gelisah. Ustazah Aminah tak mengatakan apa-apa lagi, dia merasa penat dan ingin beristirahat sebentar. Hari saat itu mendung setelah tadi cuaca demikian panas. Ustazah Aminah membayangkan betapa nikmatnya tidur dengan mendengarkan suara rintik hujan yang menimpa genteng asrama.
*
Alif mengantarkan Umi Habibah dengan menggunakan sepeda motor. Jarak rumah Umi Habibah ternyata lumayan jauh dari asrama syahamah. Untungnya hari itu Umi Habibah memang sudah tak ada jadwal mengajar di kampus, jadi bisa dikatakan harinya memang sedang senggang saat itu.
Alif saat itu mengenakan celana kain, dipadu dengan kaus dan jaket hitam model sopan. Karena Umi Habibah mengenakan baju gamis, maka dia duduk menyamping, dengan satu tangan berpegangan pada pinggir jok. Tampaknya Umi Habibah masih merasa sungkan juga dengan Alif.  
“Umi sudah lama ngajar di kampus?” tanya Alif sopan. Tak enak juga dia diam sepanjang perjalanan.
“Iya, Lif, lumayan, yah atas bantuan relasi Abu juga umi bisa masuk,” Jawab Umi Habibah. Dia tersenyum membayangkan dirinya yang berasal dari keluarga miskin di sebuah desa di pedalaman Jawa Tengah kini bisa menjabat sebagai dosen yang terhormat di kampus terkenal di Yogya.
“Enak ya Mi, jadi dosen?” tanya Alif lagi dengan nada bercanda.
“Hehe, yah pertanyaan Alif lucu.” Umi Habibah tersenyum. “Ada enaknya ada enggaknya Lif. Kadang ada mahasiswa yang nakal juga kok.”
“Besok kalau Alif kuliah, Alif ingin diajar Umi deh,”
“Lha kenapa?”
“Kayaknya enak diajar bu dosen yang cantik, alim, lembut, hehe” Alif mulai memperakrab dirinya dengan Umi Habibah.
Umi Habibah tertawa. Dia menganggap ucapan Alif itu hanya sebagai guyonan saja. “Alif ini ada-ada saja. Cantikan umimu dong Lif,”
“Sama-sama cantik deh,” jawab Alif sambil mengerem motornya mendadak saat ada orang yang menyeberang di depannya tanpa permisi. Karena gerakan mendadak itu Umi Habibah hampir menggelesot dari motor.
“Umi, pegangan pinggang Alif deh, maap ya, orang di jalan akhir-akhir ini makin sembarangan,” kata Alif. “Ngendarai motor kayak koboy.”
Umi Habibah akhirnya berpegangan pada pinggang Alif meski sebenarnya dia merasa agak sungkan, tapi lama-lama biasa juga. Toh pikirnya Alif adalah putra seniornya yang terkenal alim, jadi ya gak mungkin ngapa-ngapain. Padahal Alif di detik merasakan tangan halus Umi Habibah menyentuh pinggangnya, penisnya langsung gelisah. Dibayangkannya tangan halus itu mengocok kontolnya, ah, dan dia lupa memakai celana dalam waktu itu.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan sambil mengobrol makin akrab.
Di tengah perjalanan tiba-tiba hujan deras turun seperti dicurahkan dari langit. Sekitar mereka tak ada bangunan, hanya sawah, karena memang rumah Umi Habibah ada di daerah agak pinggiran. Alif meminggirkan motornya.
“Gimana ni Umi? Alif lupa gak bawa jas hujan,” tanya Alif. “Kita lanjut atau ... kayaknya susah juga nyari tempat berteduh.”
“Umi manut Alif saja, tinggal lima belas menitan sampai kok Lif,” jawab Umi Habibah.
Alif memutuskan untuk lanjut saja. Dilepasnya jaketnya. “Umi pakai jaket Alif ya, biar gak terlalu basah.”
“Lha Alif sendiri?”
“Santai Mi, Alif mah udah biasa, Laki-laki,” jawab Alif sambil nyengir. Dia sebenarnya hanya sedang berusaha menjalin keakraban saja dengan umi Habibah. Meski sebenarnya dia lebih suka melihat Umi Habibah basah-basahan.
Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan menembus hujan deras. Tanpa sadar umi habibah memepetkan pinggangnya ke punggung Alif, dan tangannya juga makin erat berpegangan di pinggan anak itu. benar ternyata, lima belas menit kemudian keduanya sampai di depan rumah Umi Habibah, rumah mewah dengan arsitektur indah, berukuran besar, dan lokasinya agak jauh dari tetangga.
“Langsung masuk Lif, ayo,” Umi Habibah berlari ke pintu. Alif mengikuti setelah memasukkan sepeda motornya di garasi sebelah rumah. Karena tubuhnya basah kuyup, Alif hanya berdiri saja di depan pintu sambil mengibas-kibaskan air hujan. Saat itu hujan masih sangat deras, bahkan diiringi dengan angin ribut juga.
Tak lama Umi Habibah kembali membawa handuk. Tubuhnya masih ditutupi jaket Alif yang untungnya mampu melindungi bagian atas tubuhnya dari air hujan. Hanya bagian bawahnya saja yang basah. “Ini Alif, kamar mandi sebelah sana, nanti Umi carikan kain yang pas buat Alif ya.” Kata Umi Habibah.
Alif menerima handuk itu dan mengelap tubuhnya untuk mengurangi cipratan air yang mungkin membasahi lantai. Umi Habibah sempat melihat bagian selangkangan anak itu. Karena basah, celana Alif melekat di kulitnya, dan sekilas nampak penisnya membonggol merapat ke paha. Alif tahu Umi Habibah menatap penisnya, tapi dia pura-pura sibuk mengelap bagian atas tubuhnya.
Untuk sesaat Umi Habibah tercenung. Di benaknya langsung terbayang penis Abu Fawaz yang tak selalu bisa dia nikmati setiap malam karena harus berbagi dengan Umi Lilik.
“Alif ke kamar mandi dulu Umi,” Alif tersenyum.
“O ya ya, Alif, lurus saja ke sana.” Jawab Umi Habibah agak tersentak lalu menunjukkan jalan menuju kamar mandi.
Umi Habibah masih memandangi Alif yang berlalu, kemudian dia menutup pintu. Di luar hujan makin deras. Umi Habibah pun lalu membersihkan diri di kamar mandi dalam kamarnya. Dilepasnya jaket Alif, diciumnya sebentar entah karena alasan apa, refleks saja. Bau laki-laki tercium dari sana. Diletakkannya di tempat cucian kotor bersama dengan celana dalam dan baju-bajunya.
*
Ketika Umi Habibah keluar dari kamarnya, Alif sudah menunggu di kursi. Dia hanya memakai handuk saja yang tadi diberikan Umi Habibah. Perasaan Umi Habibah berdesir melihat tubuh anak itu yang tegap, terbayang lagi di benaknya penis yang tadi nampak sekilas. Umi Habibah sendiri sudah berganti memakai  gamis warna hitam dan kerudung warna biru, di tangannya tergenggam kain sarung.
“Alif, maap ya, Umi hanya ada ini buat Alif pakai.” Disodorkannya kain sarung itu ke Alif. “Abu gak pernah ninggalin pakaian di sini sih.”
“Gak apa-apa Umi,” jawab Alif. Diterimanya kain sarung itu sambil berdiri. Umi Habibah masih saja mencoba melihat bagian selangkangan Alif yang tertutupi handuk.
“Pakaian basah Alif biar di kamar mandi saja, nanti Umi cuci,” kata umi Habibah sementara Alif mengenakan sarung itu.
Alif hanya mengangguk. Setelah mengenakan kain sarung, bertelanjang dada, Alif kembali duduk di kursi setelah menyodorkan handuk.
“Emm, tapi Alif gimana ya, masa gak pakai pakaian, dingin banget ini, mana mati lampu juga,” kata Umi Habibah.
“Iya dingin sih, Mi, apa Alif pinjam gamis Umi ya?” Alif menjawab dengan nada bercanda.
“Serius Alif? Ya gak apa-apa sih kalau mau, kan darurat.” Umi Habibah menanggapinya dengan serius. Apalagi dilihatnya saat itu Alif nampak mengggigil. “Emmm, tapi Alif ukuran berapa ya? Gini saja deh, Alif pilih gamis Umi yang pas, sementara Umi bikinin Alif teh hangat, oke?”
“Euh, iya deh Mi.” Alif menjawab seolah karena terpaksa, padahal hatinya girang bukan kepalang.
Alif kemudian diantar Umi Habibah ke kamarnya untuk memilih baju gamis Umi Habibah di lemari. Sementara Umi Habibah ke dapur dan menjerang air menggunakan kompor gas.
Sepeninggal Umi Habibah, Alif memilih-milih koleksi gamis Umi Habibah di lemari. Ada banyak sekali sampai dia pusing memilihnya. Kemudian ide baru mampir di benaknya. Dilihatnya di kapstok ada dua gamis Umi Habibah tersampir. Yang satu berwarna putih dan yang satu berwarna kuning tua. Diambilnya yang berwarna kuning, bahannya sangat licin dan halus, dihidunya gamis itu, ada bau bekas pakai di sana yang membuat penis Alif menggeliat. Diputuskannya untuk memakai yang itu saja, lagi pula bahannya nampaknya lumayan tebal jadi akan terasa hangat.
“Ehhh, Alif kok pakai yang itu, itu kan....” Umi Habibah yang sedang menuangkan air pada gelas tak melanjutkan perkataannya.
“Gak apa-apa umi, yang ini yang pas kok,” kata Alif. Dibantunya memegangkan gelas teh.
“Umi jadi pengen ketawa. Maap bener ya Alif, gara-gara umi jadi hujan-hujanan, dan harus pakai gamis.”
Alif hanya balas tertawa. “Tapi Alif gak berani pulang siang kalau kayak gini Mi,”
“Yah gak apa-apa, masih hujan deres juga kok ini,” jawab Umi Habibah. Keduanya kemudian berlalu ke ruang tengah, duduk di kursi berhadapan. Lalu keduanya mengobrol dan bercanda. Alif memang pandai menjalin keakraban. Berkali-kali umi Habibah tertawa gara-gara candaan Alif.
*
Sampai sore, hujan malah semakin deras, sudah hampir magrib ketika itu. Umi Habibah mulai gelisah, terutama karena dia ingat persediaan lilinnya hanya tinggal enam buah. Tampaknya hujan badai itu membuat gangguan pada listrik dan biasanya baru bisa diperbaiki besok hari. Akhirnya Alif memutuskan untuk menginap di sana saja. Tentu saja dia menghubungi dan meminta ijin pada Ustazah Aminah yang dengan terpaksa mengijinkan, padahal dia sedang sangat rindu kontol anaknya.
“Besok dobel deh, sayang,” Alif berbisik.
“Iya, sayang,” balas Ustazah Aminah sambil mengusap-usap selangkangannya. “Janji ya.”
“Hehe, iya Umi, biar umi cepet sembuh.” Alif menjawab lagi, penisnya mulai menggeliat di balik gamis Umi Habibah.
 Umi Habibah sudah menyalakan dua lilin, yang satu di ruang tengah, yang satu lagi di kamarnya, ditambah satu lagi di dapur. Kilat dan petir di luar rumah dan deru hujan membuat dia takut juga, dia bersyukur setidaknya dia tidak sendirian di rumah saat itu, mana jauh dari tetangga pula.
“Ng, Alif nanti tidur di mana ya?” Umi Habibah nampak merenung.
“Alif manut Umi deh mi, di mana pun boleh asal hangat.”
“Serius di mana saja?” Umi Habibah nampak tersenyum nakal.
“Iya, Umi.”
“Yaudah, nanti Alif tidur di sini saja di sofa ya?”
“Bilang saja Umi takut,” Alif mencibir, “nanti pintu kamar Umi dibuka saja, jadi kan umi bisa lihat Alif di sofa, oke?”
“Alif tahu saja, hihi,” Umi Habibah tersenyum malu-malu. “Iya sih, Umi agak takut, baru kali ini merasakan badai kayak gini Lif.”
Keduanya masih ngobrol berapa lama, sebelum kemudian sekitar jam delapan malam, keduanya memutuskan untuk tidur. Sesuai rencana, Alif tidur di sofa, Umi Habibah tidur di kamarnya yang pintunya tepat menghadap ke sofa itu, pintu itu dibiarkan setengah terbuka. Alif sendiri sudah dibekali guling dan selimut serta bantal, supaya hangat.
*
Umi Habibah malam itu tidak langsung tidur. Dia masih membaca satu buku tentang keakhwatan untuk bahan mentoring minggu depan. Lama sampai terlarut dia membaca buku itu. Kira-kira satu jam kemudian, dia baru merasa mengantuk. Dari dalam kamar itu diliriknya Alif, nampak sudah tertidur dengan wajah menghadap ke arah kamarnya.
Umi Habibah tersenyum. Wajah anak itu nampak kekanakan. Siapa sangka jika penisnya nampak besar ... Umi Habibah mengucapkan istigfar mengusir pikiran buruk yang mendadak masuk ke kepalanya. Dia berpikir bahwa itu pasti karena jatahnya yang diberikan oleh Abu Fawaz sudah tak terlalu rutin. Padahal selama ini nafsunya selalu menggelegak. Walau bagaimana pun dia sedang dalam usia pengen-pengennya merasakan sentuhan laki-laki.
Merasa aman, Umi Habibah kemudian berniat mengganti bajunya. Pintu kamarnya sengaja tak dia tutup, dipikirnya toh Alif sudah tidur. Digantinya baju gamisnya dengan baju tidur satin yang tipis. Dia selalu memakai kerudung juga saat tidur, bedanya dia punya kerudung khusus yang memang membuatnya lebih mudah dan praktis dipakai.
 Setelahnya Umi Habibah tertidur lelap. Baru jam 3 dini harianlah dia terbangun. Dia memang terbiasa bangun jam segitu. Lilinnya sudah padam, demikian juga lilin di kamar tengah tempat Alif tidur. Saat itulah didengarnya suara yang sedikit aneh dari kamar tengah....
“Uhhh, uhhh, ahhh,”
Untuk sesaat Umi Habibah diam tak bergerak di tempat tidurnya. Baru kemudian dia sadar: suara Alif! Penasaran dia bersijingkat bangun, kemudian mengintip dari pinggir pintu. Untunglah kondisi gelap, hanya ada sedikit remang dari luar: nampaknya lampu sudah nyala, dan entah kenapa yang nyala hanya lampu luar rumahnya, menyelinap masuk melalui tirai jendela yang tipis.
Lalu nampak olehnya Alif terbaring di sofa, telentang, matanya terpejam, kedua kakinya mengangkang, gamis yang dikenakannya ngelumbruk menampakkan kedua pahanya. Tangannya bergerak cepat mengocok-kocok penisnya yang dibungkus gamisnya. Desahan nikmat keluar dari mulutnya tanpa henti.
“Uhhh, uhhh, ahhh.”
Alif ternyata sedang onani. Umi Habibah terhenyak menyadari hal itu: anaknya Umi Aminah ternyata ....
Kemudian tatapannya jatuh ke penis Alif. Bahkan dalam remang ruang tengah, bisa dilihatnya penis yang terbungkus gamisnya itu berukuran sangat besar. punya Abu Fawaz pun besar dan selalu membuatnya merintih kenikmatan, tapi ini?
Umi Habibah mendadak merasakan perasaan aneh muncul dalam hatinya. Gairah yang membuatnya ingin menonton onani Live itu sampai selesai. Maka dia berusaha sebisa mungkin menyembunyikan kehadirannya dari Alif. Keadaan dalam kamarnya yang lebih gelap dari ruang tengah sangat membantunya. Dengan deg-degan ditontonnya adegan itu.
Alif mendesah-desah penuh kenikmatan. Tangannya semakin cepat mengocok penisnya, sepertinya dia hampir selesai dengan onaninya. Lalu dengan satu erangan tertahan, tubuhnya nampak bergetar hebat. Tangannya erat-erat memegang penisnya kuat-kuat, lalu tubuh itu menyentak-nyentak beberapa saat. Setelahnya tubuh itu diam. Alif sudah orgasme.
Umi Habibah diam-diam kembali membaringkan tubuhnya di ranjang. Dibayangkannya air mani anak muda itu membasahi gamisnya ...
Dia juga memikirkan bahwa Alif melakukan itu mungkin karena dia tak bisa menahan nafsu birahinya dan dia tak ingin berbuat dosa. Membayangkan itu Umi Habibah kemudian merasa tenang. Baginya itu jalan yang lebih baik daripada misalnya anak itu mencari pelacur.
Dipenuhi dengan pikiran-pikiran itu, Umi Habibah tak bisa lagi memejamkan matanya. Maka dalam gelap dia kembali bangkit, cuci muka, kemudian mengganti gamis tidurnya dengan gamis yang dia kenakan sebelum tidur. Setelah itu dinyalakannya lampu kamarnya.
Pura-pura tak tahu apa-apa, dia melangkah ke luar dari kamarnya, pergi ke dapur menyalakan lampu di sana, kemudian kembali ke ruang tengah, dan menghampiri sofa tempat Alif tidur.
“Lif, Alif,” panggilnya pelan. Tubuh Alif tertidur menyamping. Tak berapa lama tubuh itu menggeliat, lalu matanya terbuka.
“Emmmh, Umi,” Alif langsung terduduk di sofa, mengucek-kucek matanya.
“Sudah hampir subuh, Alif, mungkin lebih baik Alif pulang sekarang, mumpung masih belum terang,” begitu kata Umi Habibah. Refleks matanya menangkap bagian selangkangan Alif yang dalam remang ruang tengah itu nampak sekilas: basah. Sengaja memang Umi Habibah tidak menyalakan lampu ruang tengah, supaya Alif tidak malu.
“Emmm, o ya ya, umi, Alif cuci muka dulu,” ucap Alif, lalu dia berdiri. Tampak ragu dia menambahkan, “Umi, boleh enggak Alif pinjam sarung yang kemarin saja? Nanti sekalian Alif pinjam jas hujan deh buat penutup bagian atas,”
Mendengar nada Alif yang tampak memohon itu, Umi Habibah ingin ketawa sendiri. Dia tahu alasan Alif yang sebenarnya. Maka jawabnya, “Iya, boleh, Lif, bentar Umi ambilin.”
Umi Habibah pergi ke kamarnya sebentar, dia kembali membawa sarung. “Oya, gamisnya dicantelin di kapstok kamar mandi saja ya, Lif.” Ucapnya sambil menyodorkan kain sarung itu.
Alif langsung pergi ke kamar mandi. Umi Habibah menatap kepergian anak itu sambil tersenyum. “Alif, alif,” bisiknnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian dinyalakannya lampu ruang tengah. Setelah itu dia pergi ke ruang belakang mengambil jas hujan.
Saat Alif kembali dengan hanya mengenakan sarung, sebuah jas hujan sudah tersampir di punggung sofa. Umi Habibah duduk di sofa lainnya. Wajah Alif nampak segar. Dia berkata, “ini jas hujannya, Umi?”
“Iya, Lif, pakai saja. Maap ya umi benar-benar tak nyimpan baju Abu,” jawab Umi Habibah.
“Gak apa-apa, Umi.” Alif langsung memakai jas hujan itu. kemudian diraihnya kunci motor dari meja. “Kalau begitu Alif pulang dulu, Umi.”  
“Iya, Lif, hati-hati ya di jalan,” Umi Habibah menatap Alif dengan senyum misterius dari ambang pintu. Alif pura-pura tak menyadari itu, dihidupkannya motornya, memanaskannya sebentar. Kemudian dia menganggukkan kepalanya ke Umi Habibah yang dibalas anggukan juga.
Setelah itu motor Alif maju, meninggalkan Umi Habibah yang tetap menatap sampai bayangan anak itu hilang dari pandangannya. Lalu, masih dengan senyum misteriusnya dia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan.
*
Tepat ketika terdengar azan subuh, motor Alif memasuki gerbang asrama Syahamah. Dia bergegas menuju ke kamarnya. Kemudian didengarnya suara orang di kamar mandi ibunya. Dia tersenyum. Ustazah Aminah nampaknya sedang mandi. Tanpa menunggu waktu, Alif mencopot sarung dan jas hujannya. Dibukanya perlahan pintu yang menuju kamar ibunya, kamar ibunya remang-remang, sambil melangkah langsung menuju ke kamar mandi, penis Alif sudah menegang. Walau bagaimanapun onani yang dilakukannya di rumah Umi Habibah tadi tak memuaskannya.
Perlahan diketuknya pintu kamar mandi.
Suara kucuran air di dalam berhenti.
Diketuknya sekali lagi.
Perlahan pintu membuka. Lampu kamar mandi memang lampu remang-remang. Alif hanya melihat bayang wanita berdiri di sana. Dia langsung masuk dan memeluk tubuh telanjang dan basah itu dari depan. Dengan kakinya ditutupnya pintu kamar mandi di belakangnya.
“Hmppphhh,” suara wanita yang dipeluk Alif tertahan karena bibirnya tertutup bibir Alif. Saat itulah Alif baru sadar keanehan. Tubuh yang dipeluknya terasa lebih ramping. Bukan, bukan Ustazah Aminah.
“Ustazah Lia???” Alif sedikit terkejut ketika sadar siapa yang ada dalam kamar mandi ibunya itu.
Ustazah Lia gantian mencaplok bibir Alif, menarik tubuh telanjang itu rapat ke tubuhnya. Penis Alif yang tegang digenggamnya dengan tangan satunya, dikocok-kocoknya perlahan, sementara buah dadanya menggesel-gesel dada Alif sampai Alif merem melek keenakan.
Tak lagi pusing memikirkan kenapa ustazah lia bisa ada dalam kamar mandi ibunya sedini itu, tangan Alif mulai nakal menggerayangi tubuh ustazah Lia, menyelusuri garis punggungnya lembut. Ustazah Lia melentingkan tubuhnya merasakan desiran nikmat dari sentuhan itu. Tangannya menghidupkan shower untuk menutupi suara lenguhan yang mulai memaksa keluar dari mulutnya.  
“Mau mandi, Lif?” Ustazah Lia berbisik di telinga Alif. Dikulum-kulumnya cuping telinga laki-laki itu.
“Ahh, iya, Ustazah Lontee, sama kamu,” jawab Alif. Dibalikkannya tubuh Ustazah Lia dipeluk dari belakang. Tangannya menggapai sabun lalu dengan nakal disabuninya bagian dada ustazah lia.
“Uhhhh,” gesekan licin sabun itu di dadanya membuat puting susunya mencuat. Geli-geli nikmat dirasakan ustazah Lia. Tak tahan dia, secara refleks tubuhnya membungkuk, dan saat itulah dengan perkasa penis Alif  mulai menyelinap dari sela bawah pahanya yang terbuka lebar.
“Aughhhhhh, uhhhh,” Ustazah Lia membeliak merasakan benda tegang kenyal itu memasuki vaginanya dari belakang. Tubuhnya semakin membungkuk tapi tertahan oleh tangan Alif yang terus meremas-remas dadanya yang licin penuh sabun. Nikmat sekali dia rasakan, sudah agak lama penis anak muda itu tak dirasakannya.
Perlahan Alif memaju mundurkan penisnya di dalam memek sang ustazah. Air dari shower sedikit mengenai tubuhnya, menciptakan sensasi tersendiri yang membuat gairahnya tambah terpacu. Tangannya sesekali mengusap usap alur punggung ustazah Lia sampai sang ustazah hanya bisa merem melek dan mendengus-dengus dipacu birahi terlarang yang sedang dinikmatinya.
“Ustazah Lia,” saat itu terdengar panggilan dari luar kamar mandi, lalu ketukan. Ustazah Aminah.
Alif menghentikan pergerakanannya. Ustazah Lia menenangkan nafasnya yang memburu sebelum menjawab. “Iyya Umi.”
“Ana ke mushola dulu ya, ukhti nanti nyusul saja.”
“Oh, iyya umi, nanti ana nyusul.”
Setelah beberapa saat dan yakin bahwa sang umi sudah keluar dari kamar, barulah Alif memajukan kembali tubuhnya, menusuk memek sang ustazah yang bertubuh mungil tapi menggairahkan itu. Ustazah Lia hanya pasrah, toh itu jugalah yang diinginkannya. Suara desahan mereka berdua terdengar semayup di balik suara air dari shower.

Kamis, 17 November 2016

(EMSD 2) KENIKMATAN ALIF YANG TERTUNDA



Hari Jumat.
Sebuah mobil keluar dari Asrama Syahamah, belok kiri, kemudian lurus dan kembali belok kiri, bergabung dengan kendaraan-kendaraan lainnya di jalanan. Di balik kemudi Umi Aminah, sementara di sampingnya duduk Alif. Keduanya nampak berpakaian rapi. Alif memakai celana kain dikombinasikan dengan sport hem, sedangkan Umi aminah memakai gamis panjang abu-abu sewarna dengan warna kerudungnya.
“Emang ada apa Ustazah Lilik kok mendadak minta kita ke sana, Umi?” tanya Alif memulai pembicaraan.
“Umi juga tidak tahu. Tadi dia Cuma bilang secepatnya ke sini, penting, katanya.” Umi Aminah anteng menatap jalanan. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Dengan kecepatan seperti itu dan jalanan yang tidak terlalu ramai, kemungkinan Cuma 20 menitan bisa sampai ke sana.
Alif mengangguk-angguk. Dia menoleh mengamati Uminya dengan lekat. Umi Aminah yang menyadarinya kemudian menoleh sekilas ke anaknya yang juga berstatus suami sementaranya itu sambil tersenyum. “Alif ada apa sih kok ngelihatin umi kayak gitu?”
Alif mencopot sabuk pengamannya, kemudian dia menggeserkan posisi duduknya sambil berbisik di telinga ustazah Aminah: “Umi cantik sekali hari ini.”
Perasaan umi Aminah berdesir mendengar sang anak mengatakan demikian. Langsung terbayang dalam ingatannya pergulatannya yang sangat dahsyat dengan sang anak itu tadi malam. Terbayang dalam ingatannya dirinya merintih-rintih keenakan saat kemaluannya ditujah oleh penis anaknya yang besar dan panjang itu. betapa nikmatnya.
Lalu dirasakannya tangan anaknya menelusuri pahanya dengan lembut.
“Eeeh, Alif nakal ah,” seru Ustazah Aminah, lebih menyerupai desahan. Gairahnya bangkit merasakan usapan tangan pria perkasa yang bergerak dari atas ke bawah bolak-balik di pahanya.
“Habis umi seksi sekali pakai gamis ini, sayang,” bisik Alif. Tangannya bergerak makin nakal ke arah selangkangan ibunya.
“Hussh, sayang, jangann, umi sedang nyetir inii,” bisik ibunya. Sebisa mungkin dia tetap konsen menyetir sementara pada saat yang sama dirasakannya denyar-denyar kenikmatan mulai menjalar di sekujur tubuhnya.
Umi Aminah menarik nafas lega ketika Alif menarik tangannya dari pahanya. Tapi tak disangkanya kemudian anaknya itu membuka kaitan celananya dan resletingnya, kemudian menunjukin penisnya yang sudah tegak mengacung. “Alif pengen, umii,” rajuk Alif sambil mengelus-elus penisnya.
Umi Aminah menoleh sekilas menatap penis yang sangat menggodanya itu. “Aaahh, kan tadi malam sudah sayang,”
“Pengen lagi,” jawab Alif. “Umi kocokin dehh, sambil nyetir,”
“Gak mau, ntar nabrak, sayang,”
“Kalau begitu Alif bakalan ganggu umi terus,” Alif menampakkan cengiran nakalnya. tangannya kemudian kembali mulai menjelajahi paha sang umi, naik ke arah selanngkangan.
“Ahhh, iya deh, sayang,” mau tak mau umi aminah menurut. Daripada peralanan itu diisi dengan elusan Alif yang bakalan membangkitkan gairahnya, masih mending dia mengocok penis anak kesayangannya itu.
“Hehe, gitu dong, Umi. “ Alif tertawa penuh kemenangan.
Umi Aminah lalu melepaskan tangan kirinya dari stir dan mulai menggenggam penis anaknya itu. dikocoknya penis itu perlahan, dengan hati yang sedikit berdebar-debar. Dia belum pernah melakukan hal seperti ini sepanjang hidupnya, mengocok penis di dalam mobil sambil menyetir. Mau tak mau gairahnya timbul juga.
“Aaaah, halus sekali tanganmu umi, uhhh,” alif bersandar di jok mobil sambil merem melek merasakan kocokan yang sangat nikmat di penisnya. Tangan halus itu terasa makin ahli membuai birahinya menuju kenikmatan. Dalam hatinya dia tersenyum menyadari bahwa sang ibu, ustazah aminah yang alim, kini sudah bisa dibuatnya makin liar.
Mobil terus melaju perlahan. Ustazah Aminah merasakan penis yang dikocoknya itu berdenyut dengan liar, otot-ototnya makin menonjol membuat memeknya terasa membasah. Dirasakannya juga bra yang menyangga kedua buah dadanya makin sesak, pertanda bahwa gairahnya sudah membuat kedua bagian tubuh kebanggaannya itu membengkak.
Sambil menyetir ustazah aminah berjuang melawan birahi yang terus menyerangnya. Didengarnya juga desahan-desahan anaknya yang sesekali terdengar kotor tapi entah kenapa kini makin disukainya. Hampir saja dia menyerah memberhentikan mobilnya dan mengajak sang anak menuntaskan birahinya di pinggir jalan, akan tetapi beruntunglah kemudian mobil mereka keburu sampai di belokan gapura menuju ke rumah umi lilik.
“Sayang, udah hampir sampai,” suara ustazah aminah agak bergetar menahan nafsu.
“Oh, iyakah mi?” Alif nampak terkejut. Dia kemudian melepaskan tangan umi aminah dari penisnya, mencium tangan itu mesra, kemudian dinaikkannya lagi celananya. “Makasih sayang,” bisiknya.
Ustazah Aminah tak menjawab. Gejolak birahinya masih belum padam. Mobil itu ber-AC tapi dirasakannya tubuhnya berkeringat. Dia kemudian konsen mengendarai mobil yang dua menit kemudian sampai ke depan rumah umi lilik hamidah.
Umi Lilik sudah menunggu di teras. Sambil tersenyum dia langsung menyambut. “Mari langsung masuk saja Umi, Alif,”
Umi Aminah dan Alif langsung duduk di kursi. Abu Fawaz sudah menunggu di sana. “Lho, Umi kok berkeringat gitu, panaskah di jalan?” Abu Fawaz mengomentari penampilan ustazah Aminah yang berkeringat dan mukanya merah padam.
Sebelum ustazah Aminah menjawab, Alif menjawab, “AC-nya mati, Ustaz, makanya panas banget tadi di mobil.” Dia mengakhirinya sambil tersenyum.
“Ooo,” Abu Fawaz mengangguk-angguk maklum. Umi aminah menoleh sekilas ke Alif, Alif mengedipkan matanya. Umi Lilik melihat hal itu dan paham apa yang mungkin terjadi di antara anak beranak itu dalam mobil.
“Oiya, Alif, bisa bantu umi bikin teh di belakang, kan? Mati lampu dari tadi, makanya harus nyeduh dulu pake kompor.” Umi Lilik berkata sambil menatap Alif.
“Yaudah, Alif sana bantu Umi dulu,” sahut Umi Aminah tanpa berpraduga apa-apa. Abu Fawaz tak berkomentar.
“Kan kasihan kalau umi ngajak umimu, kayaknya capek banget,” umi lilik tertawa sambil bangkit dan menuju ke dapur. Alif mengikuti. Pintu dapur sudah tertutup, Alif langsung memepet tubuh umi lilik ke tempat cuci piring dan membalik tubuh itu. dengan rakus diserbunya bibir umi lilik dengan bibirnya.
“Hehhh, anak nakal, berani benar meluk-meluk istri ustaz di dapur saat suaminya di depan,” Umi lilik berbisik manja setelah bibirnya lepas dari bibir Alif. Tangannya dengan nakal mengusap selangkangan Alif.
“Habis istri ustaznya binal banget,” jawab alif, juga berbisik. Tangan Alif langsung meremas buah dada umi lilik.
“Apa yang terjadi di mobil tadi, sayang?” umi lilik meremas-remas penis Alif.
“Hehe,” Alif hanya tersenyum. Disingkapkannya jilbab umi lilik, kemudian dengan liar dibukanya kancing gamis umi lilik menampakkan payudaranya yang ternyata tak ditutupi bra. Langsung dikenyotnya puting yang cokelat menggairahkan itu.
Umi Lilik merem melek bersandar pada tempat cuci piring itu. tangan Alif bergerilya menyasar gamis umi lilik kemudian menariknya ke atas dan tangannya langsung menyusuri kulit paha umi lilik, langsung ke atas ke rimbun pangkal selangkangan umi lilik.
“Uhh,” umi lilik mendesah tertahan. Ternyata dia juga tak mengenakan celana dalam. “masih ada bekas sperma abu fawaz, sayang,” bisiknya di telinga Alif.
Alif sebenarnya ingin berlama-lama, tapi dia tahu hal itu tak mungkin. Maka dia langsung mengeluarkan penisnya dan membalik kembali tubuh umi lilik berposisi doggy dengan bertumpu pada tempat cuci piring. “Langsung kuentot ya umi, masih belum kering ludahnya umi aminah di mobil,” bisiknya.
Umi Lilik langsung paham apa yang tadi terjadi di mobil. Dirasakannya kepala penis Alif menggesek-gesek bagian luar kemaluannya, membuat memeknya terasa makin basah. Alif menyampirkan ujung gamis umi aminah ke punggungnya, kemudian dengan gerakan kuat dia menyentakkan penisnya memasuki lubang kenikmatan sang ustazah.
Hampir saja Umi Lilik melolong. Kenikmatan yang dirasakannya jauh dari kenikmatan yang diberikan Abu Fawaz tadi malam. Tangan Alif menggerayangi dan meremas buah dada Umi Lilik yang separo terbuka, tertutupi oleh jilbabnya yang tergantung ke bawah. Digigitnya bibirnya keras-keras supaya desahan kenikmatannya tak keluar dari sana.
“Uuhhg uhhh,” tiap kali Alif menghentakkan tubuhnya, masih tersisa keluar desahannya yang mirip keluhan. Penis besar itu terasa menyodok-nyodok memeknya sampai ke bagian yang paling dalam. Ditambah lagi dengan sensasi bersetubuh dengan pria yang bukan mahramnya sementara suaminya terdengar sedang mengobrol dengan ustazah Aminah di ruang depan membuat kenikmatannya tumbuh berkali lipat.
Alif juga merasakan sensasi yang sama, dan dia tahu bahwa waktunya hanya sedikit. Maka ditujahnya memek umi lilik dengan gerakan cepat. Tangannya meremas-remas buah dada yang menggoda menggantung itu, didengarnya pelan lenguhan umi lilik dan dilihatnya tangan umi lilik menggenggam erat pinggiran tempat cuci piring, pertanda bahwa dia mencoba menahan birahinya sekuat mungkin supaya tidak menjelma erangan nikmat yang keras.
Di saat-saat itu, terdengar suara Abu Fawaz dari ruang depan. “Umi, lama sekali, ini ustazah Aminah sudah haus banget tampaknya.”
“Enggak kok umi,” terdengar juga jawaban ustazah Aminah.
Alif menahan gerakan penisnya sebentar. Umi Lilik menata nafasnya dan mencoba menjawab senormal mungkin. “Iyya Abi...Ini Alif baru pulang, umi suruh beli teh dari warung deppan...”
Alif langsung menghentakkan penisnya kembali, kemudian dengan gerakan cepat menarik tubuh umi lilik berdiri, ditolehkannya kepala umi lilik ke belakang dan langsung dilumatnya bibir sang umi. Tangannya meremas-remas perut umi lilik dengan gemas.
Umi lilik yang merasakan sensasi baru setelah menjawab pertanyaan suaminya, digabungkan dengan gerakan Alif yang mendadak itu, dia langsung mencapai puncak kenikmatannya. “Uuuuukh ukh...” bibirnya langsung ditutup rapat oleh bibir Alif. Sementara tubuhnya bergetar hebat ditahan dengan kuat oleh kedua tangan Alif.
Setelahnya Umi Lilik langsung berusaha melepaskan diri dari dekapan Alif. Dibenahinya gamis dan kerudungnya yang mosak masik, sementara Alif masih mencoba akan memasukkan kembali penisnya, dia belum orgasme.
“Udah sayang, nanti Abu curiga,” bisik umi lilik.
“Umi curang, ini masih belum apa-apa,” jawab Alif sambil menunjuk penisnya.
“Hihi, makasih ya sayang,” sahut umi lilik nakal. Dia langsung menghidupkan kompor dan mengambil gelas.
“Umii,” bisik Alif.
“Balas dendam, kamu kan udah nikmat-nikmatan sama umimu tadi di mobil,” umi lilik menjawab sambil menjulurkan lidahnya.
Alif mati kutu. “Awas ya umi,” desisnya. Mau tak mau dia mencoba meredam birahinya yang sudah meninggi, berusaha supaya penisnya mau melembek supaya bisa ditutupnya celananya. Umi Lilik hanya tersenyum melihat perjuangan Alif.
Beberapa menit kemudian umi lilik keluar membawa nampan berisikan dua gelas teh hangat dengan diiringi oleh Alif. Setelah meletakkan nampan itu, Umi Lilik kembali duduk di tempatnya semula di samping Abu Fawaz, sementara Alif duduk di samping Ustazah Aminah.
Setelah basa basi sejenak, barulah kemudian Ustazah Aminah mengajukan pertanyaan. “Ada apa sebenarnya abi, umi, kok ana agak kaget juga mendengar undangan yang terasa sangat mendadak ini.”
“Ehm,” Abu Fawaz berdehem sejenak. Setelah melirik ke Umi Lilik, dia lalu melanjutkan. “Sebenarnya kami ingin menikahkan putri kami, Sofia, umi, dan kami merasa kejutan ini terlalu menyenangkan jika tidak disampaikan langsung seperti ini.” Abu Fawaz menutupnya dengan senyum.
“Menikah?” bukan hanya Ustazah Aminah, Alif juga terkejut dan langsung menatap umi Lilik. Umi Lilik hanya pura-pura menunduk.
“Iya, umi, minggu depan. Yah, kami hanya ingin membuat pesta pernikahan sederhana saja.”
“Kok terasa mendadak ya abi?”
“Yah sebenarnya enggak juga, Umi, rencananya sudah lama, tapi baru kemarin mempelai prianya berani meminang.”
“Siapa mempelai prianya abi?” Umi Aminah bertanya melengkapkan rasa penasarannya.
“Solihun, Umi, umi pun pasti mengenalnya.”
Solihun adalah aktifis yang satu angkatan dengan Sofia, dan dia bisa dikatakan adalah orang terdekat Abu Fawaz. Biasanya dia juga yang berperan sebagai supir Abu Fawaz kalau bepergian jauh. Bisa dikatakan dia merupakan tangan kanan Abu Fawaz.
“Ooo,” Ustazah Aminah hanya mampu berkomentar seperti itu. “Dan ukhti Sofia sudah setuju, Abi?”
Abu Fawaz dan juga Umi Lilik mengangguk. “Sudah, Umi, makanya kami ingin bersegera menikahkan mereka, sebelum terjadi fitnah.”
“Tapi kalau seminggu bukannya terlalu mepet, Abi? Bagaimana untuk persiapan-persiapannya?”
“Sebenarnya memang agak mepet, tapi karena pernikahannya sederhana, kami rasa masih bisa diusahakan juga. Dan masalahnya, minggu depan juga Abi akan berangkat ke Sumatra, Umi Aminah pasti sudah tahu,” Abu Fawaz menoleh ke Umi Aminah, “ada dugaan kecurangan kader yang melakukan korupsi di sana, makanya Abi yang dipasrahi menyelidiki. Rencananya Abi mungkin sebulan di sana. Nah, Abi ke sana akan bersama solihun, karena dia orang yang paling abi percayai. Jadi, yah, biarlah solihun menikmati surga dunia dulu, baru dua hari kemudian kami berangkat.” Abu Fawaz menutup ceritanya dengan guyonan.
Mereka sama-sama tertawa.
Setelahnya mereka berempat mengobrolkan beberapa hal lain sampai kemudian Ustazah Aminah dan Alif pulang. Sepanjang perjalanan, Alif tak banyak bicara. Ada banyak ide yang berkecamuk di pikirannya saat itu. umi Aminah juga merasa tenang karena anak sekaligus suaminya itu tak mengganggunya sama sekali.   
Sampai di gerbang masuk ke asrama syahamah, mereka disambut oleh Ukhti Nani. Hari kamis kemarin Ukhti Nani sempat melakukan protes ke Umi Aminah, atas peraturan baru yang ditetapkan di Asrama Syahamah, yaitu peraturan yang membolehkan mereka mengenakan “babydoll syar’i”.
“Ada apa, Ukhti?” Umi Aminah langsung mengajukan pertanyaan.
“Ada dosen ana menunggu, umi, mau mengobrol dengan umi, perihal yang kemarin. Nunggu di atas,” jawab ukhti Nani.
“Oh,” ustazah Aminah dan Alif langsung menuju ke atas, sementara ukhti Nani mengikuti di belakang mereka. 
*
catatan: semua usul agan-agan ane tampung, untuk sementara ane melanjutkan sesuai plot yang sudah ane susun, nanti kalau memungkinkan dimasukkan maka usulan agan-agan akan ane masukkan. teruslah komen dan menyebarkan web ini ya, biar ane lebih semangat mengupdatenya. terima kasih semuanya. 

Foto Jilboobs Terbaru

Tokoh Kartun & Hentai Jilboobs

Kartun & Hentai Jilboobs Terbaru

Cerita Seks Jilboobs Terbaru