Monday, March 20, 2017

,

Cerita Seks Cewek Jilboobs | Kenangan Hitam Masa Lalu 14 Tamat

Hari berganti pagi. Gatot sudah siap untuk mengantar Aisyah mengajar. Ia membantu merapikan baju muslimah Aisyah. Kini setiap hari tugasnya adalah mengantar Aisyah kemana saja. Mengajar ke sekolah, berbelanja di pasar murah, pokoknya kegiatan Aisyah tidak pernah lepas dari kontrolnya. Biarpun mengantarnya hanya pakai motor, tapi Gatot bahagia. Aisyah juga sangat bahagia.
“Sudah dipanasi motornya, Mas?” tanya Aisyah.
“Beres. Tinggal nambah bensin. Jam berapa kamu pulang?” tanya Gatot balik.
“Aku pulang lebih awal, Mas. Jemput saja jam sepuluh.” jawab Aisyah. Gadis itu sudah cantik dan rapi. Gatot paling suka memandangi Aisyah kalau sudah memakai seragam. Apalagi Aisyah pintar mengkreasi seragam kerjanya dengan paduan kerudung yang berganti-ganti tiap hari, membuat Gatot tak pernah bosan.
“Nanti antar ke dokter ya, Mas.” kata Aisyah.

“Dokter apa? Spesialis kulit? Ahli penyakit dalam? Atau dokter jiwa?” tanya Gatot menggoda.
“Entahlah, Mas. Aku sudah dua bulan tidak datang bulan.” sahut Aisyah tanpa bisa menyembunyikan senyumnya.
“Benarkah?” Gatot ikut berbinar.
Aisyah mengacungkan dua jarinya. Gatot kembali membuka kancing-kancing seragam Aisyah dan meraba-raba perut perempuan cantik itu. Memang ada yang berubah dari bentuk perut Aisyah. Tidak rata seperti biasanya.
“Semoga kamu hamil, Aisyah.” kata Gatot penuh harap. Sebagai lelaki bisa menanamkan benih di rahim wanita adalah hal yang paling membanggakan. Gatot berharap Aisyah benar-benar hamil dan memberinya keturunan. Ia merasa belum menjadi lelaki sempurna bila belum bisa membuat istrinya itu hamil. Dan Aisyah sudah dua bulan tidak datang bulan. Sebuah pertanda baik.
“Kita berdoa saja, Mas.” kata Aisyah sambil kembali mengancingkan baju seragamnya. ”Sudah ah, ayo berangkat. Nanti aku telat.” Ia harus cepat karena tangan Gatot sekarang sudah mulai menjamahi gundukan payudaranya dan meremas-remas lembut disana.
”Hehe, ini juga tambah besar.” sahut Gatot dengan wajah sumringah.
”Itu karena sering Mas pegang-pegang!” balas Aisyah.
Setelah tertawa bersama, merekapun berangkat.
“Nanti kujemput, Aisyah. Jangan kemana-mana sebelum aku datang.” sahut Gatot saat menurunkan Aisyah di depan sekolah.
“Iya, Mas. Hati-hati di jalan.” pesan Aisyah sebelum masuk kelas.
Gatot pulang tapi tidak ke rumahnya, melainkan ke rumah lama milik Murti. Boleh dibilang rumah itu kini jadi miliknya karena Aisyah telah membeli rumah itu seluruhnya. Perlahan Gatot membuka pintu dan masuk. Ada kerinduan dan kebencian tiap kali ia memasuki rumah ini, rumah yang memberinya banyak kenangan. Ia rindu kepada senyum dan tawa Murti, rindu pada aroma keringat Murti, dan rindu pada segala kebaikan Murti. Tapi ia juga benci karena di rumah ini pula jadi ajang penumpukan dosa. Setiap sudut rumah pernah ia jadikan tempat pelampiasan nafsu bersama Murti.
Mengingat hal itu, Gatot jadi benci dirinya sendiri. Aisyah pernah berkata tidak akan menempati rumah yang dibelinya. Aisyah takut karena rumah itu menjadi tempat kejadian tragis, tempat Pak Camat bunuh diri setelah menyiksa Murti. Aisyah takut kalau tinggal di rumah itu akan terbawa suasana buruk. Gatot pun dilanda takut. Ia tidak berani membuka kamar yang ada. Ia kembali dan keluar, menutup dan mengunci pintu lalu berjalan menuju rumahnya sendiri.
“Tot, mampir kemari.” seru suara seseorang.
Gatot menoleh ke arah asal suara dan melihat Ningsih melambaikan tangan memintanya menghampiri. Dengan dibayangi ragu, Gatot memenuhi panggilan Ningsih. “Ada apa?” tanyanya begitu mereka sudah berdiri berhadapan.
“Aku butuh bantuanmu, Tot. Ayo ikut ke dalam.” sahut Ningsih ringan.
“Kok sepi? Mana yang lain?” tanya Gatot sedikit agak curiga.
“Tidak ada. Aku sendirian di rumah. Makanya aku minta tolong ke kamu.” sahut Ningsih lagi, masih tetap santai.
“Kalau aku bisa, pasti kubantu. Ada kesulitan apa?” tanya Gatot dibayangi ragu.
“Tolong perbaiki pintu kamarku, Tot. Nggak mau tertutup tuh.” jawab Ningsih.
Gatot membuntuti Ningsih sampai di depan sebuah kamar. “Coba kulihat dulu,” Gatot memeriksa keadaan pintu yang sepertinya tidak ada masalah. Tapi ningsih tidak bohong. Pintu kamar itu tidak bisa ditutup. “Coba kuperiksa dari dalam,” Gatot masuk ke dalam kamar dan sekali lagi coba menutup pintu. Aneh, justru dari dalam pintu kamar bisa tertutup, bahkan tidak bisa dibuka. Gatot jadi terjebak bersama Ningsih di dalam kamar.
“Bagaimana, Tot?” tanya Ningsih mengagetkan.
“Pintu kamarmu ini aneh. Tadinya nggak bisa ditutup, sekarang malah nggak bisa dibuka.” kata Gatot sambil terus mengutak-atik.
“Jadi bagaimana?” desak Ningsih lagi.
“Biar kupikirkan dulu.” Gatot berpikir keras demi bisa secepatnya keluar dari kamar Ningsih. Ia bisa saja menggunakan tenaganya yang luar biasa untuk mendobrak pintu itu, tapi ia perlu mengkaji ulang untuk melakukannya karena konstruksi rumah yang tidak memungkinkan. Bisa-bisa bukan cuma pintu yang jebol, tapi dinding juga ikut jebol.
Gatot mencoba beberapa kunci yang diberikan Ningsih, tapi tak satupun yang cocok. Gatot mulai kesal, apalagi Ningsih sama sekali tidak berusaha memberi saran. Diminumnya segelas air yang disuguhkan Ningsih. Matanya seketika berkunang-kunang. Sadarlah Gatot situasi telah berubah penuh bahaya. Ia sempat melihat Ningsih membuka pakaian. Dengan kepala setengah pusing, Gatot tidak berpikir apa-apa lagi dan menerjang pintu kamar yang seketika roboh. Ia berlari keluar dari rumah Ningsih dan masuk ke rumahnya sendiri. Sampai di kamar ia jatuh.
Beberapa saat lamanya Gatot berada di dunia lain. Tapi Gatot adalah lelaki yang tangguh dan kuat. Tidak sampai dua menit, ia telah sadar kembali sepenuhnya. “Tega-teganya Ningsih menjebakku!” batin Gatot penuh sesal. Hampir saja ia jatuh ke lubang yang sama seperti beberapa bulan silam.
“Maafkan aku, Aisyah.” bisik hati Gatot lagi.
Sementara itu di dalam kamarnya, Ningsih terlihat sangat kecewa. Usahanya menjebak Gatot gagal total. Minuman yang ia campuri obat tidur tidak bisa melumpuhkan Gatot. Padahal ia sempat tersenyum lebar saat melihat Gatot mulai limbung. Ia sudah siap menyuguhkan tubuhnya kepada Gatot. Akan tetapi sama sekali tidak ada hasil. Ia juga sengaja mengakali pintu, tapi sekarang ia bingung harus bilang apa nanti kalau seisi rumah bertanya kenapa pintu kamar hancur dan dinding rumah retak. Gara-gara ingin mencelakai Gatot, ia harus mendapat masalah baru. Ningsih kesal dan menumpahkan kekesalannya itu dengan merobek-robek pakaiannya dan membuang sisa air yang tadi diminum Gatot.
“Suatu saat kamu pasti jatuh, Tot!” bisiknya geram.
***
Aisyah mulai membereskan perlengkapan mengajarnya dari atas meja kerja. Ia memasukkan buku dan laptop ke dalam tas, menoleh ke jam dinding yang hampir menunjuk angka sepuluh. Saatnya untuk pulang dan menunggu Gatot di depan pintu gerbang. Tapi sampai jam sepuluh lewat, Gatot tak kunjung datang menjemput. Nah itu dia, Aisyah girang melihat Gatot ngebut dari kejauhan. Tak lama kemudian sampai di hadapannya.
“Kok lambat, Mas?” tanya Aisyah sabar.
“Maaf, Aisyah, aku ketiduran. Mau langsung ke dokter?” balas Gatot.
“Boleh, Mas. Daripada bolak-balik.” jawab Aisyah.
“Ayo naik. Pelan-pelan saja.”
Gatot langsung mengantar Aisyah ke dokter. Sebenarnya kepalanya masih terasa pusing akibat meminum air pemberian Ningsih tadi, namun demi Aisyah ia memaksakan diri. Gatot membawa Aisyah ke salah seorang dokter yang merupakan temannya. Ia menuntun Aisyah ke ruang praktek dan disambut hangat seorang dokter wanita.
“Ya ampun, Gatot, lama sekali aku tidak bertemu kamu.” seru bu dokter gembira.
“Aku nganter istriku nih, sudah dua bulan telat.” jawab Gatot.
“Jadi mbak ini istrimu? Kenalkan, Mbak, saya Yuni, teman sekolah Gatot.” kata bu dokter memperkenalkan diri pada Aisyah.
“Saya Aisyah,” balas Aisyah sopan.
“Sombong kamu, Tot. Mentang-mentang dapat istri cantik, kamu tidak ngundang aku.” kata bu dokter Yuni.
“Nanti kuundang. Kebetulan minggu depan kami menggelar resepsi. Sudahlah, buruan periksa istriku.” jawab Gatot.
“Kalau mau jadi ayah harus sabar, Tot. Jangan brangasan.” kata Yuni.
Aisyah berbaring sesuai perintah dokter cantik itu. Gatot menunggu dengan harap-harap cemas. Tak berapa lama bu dokter tersenyum dan selesai melakukan pemeriksaan. Aisyah juga sudah mengenakan lagi pakaiannya dan sekarang duduk di dekat Gatot, menunggu juga dengan harap-harap cemas. Tapi senyum bu dokter membangkitkan sebuah harapan.
“Bagaimana hasilnya, Yun?” Gatot semakin tak sabar.
“Positif. Istrimu hamil dua bulan.” jawab Yuni.
Gatot memeluk Aisyah dan menciumi wajah Aisyah dengan raut gembira. “Kamu positif hamil, Aisyah! Kamu hamil!” serunya riang seperti anak kecil.
“Alhamdulillah, Mas. Keinginan itu dikabulkan,” kata Aisyah tak kalah gembira.
“Itu baru satu kabar gembira. Kalian mau tahu kabar yang lainnya?” tanya Yuni menebar teka-teki.
“Apa itu?” kata Gatot dan Aisyah serempak dan kompak.
“Ini masih sebatas diagnosaku, Tot. Janin di rahim Aisyah kembar. Untuk lebih meyakinkan, cobalah USG saat usia kandungan Aisyah tiga bulan lebih.” kata Yuni.
Lengkaplah kebahagiaan Gatot dan Aisyah. Mereka berbincang-bincang sejenak dengan Yuni sebelum pulang. Yuni tidak membebani biaya pemeriksaan. Yuni juga bersedia dipanggil kalau Gatot atau Aisyah butuh bantuan. Gatot sangat berterima kasih. Mereka pulang dengan suasana hati riang. Sengatan mentari tidak menyurutkan semangat mereka. Pusing yang dirasakan Gatot seketika hilang, terobati oleh senyum kebahagiaan yang dipancarkan Aisyah hingga tiba di komplek.
“Mbak Yuni itu orang baik ya, Mas.” kata Aisyah.
“Dia sih nggak butuh duit. Orang tuanya pejabat. Yuni buka praktek hanya buat senang-senang.” jawab Gatot.
“Tapi kok masih ingat ya ke Mas Gatot? Padahal mas kan cuma sekolah sampai kelas 2 SMP.” pancing Aisyah.
“Siapa sih yang bisa melupakan masmu yang ganteng ini?” goda Gatot.
Aisyah mencibir. Udara siang semakin panas dan terik. Aisyah ingin sekali mandi untuk menghilangkan gerah, tapi Gatot melarang. Akhirnya Aisyah memilih memakai daster dan duduk bersama Gatot di meja makan.
“Kok aku baru tahu ya?” kata Gatot membuka pembicraan.
“Baru tahu apa, Mas?” tanya Aisyah.
“Baru tahu kalau kamu cantik!” celetuk Gatot.
“Jadi selama ini Mas Gatot menilai aku jelek?” sungut Aisyah pura-pura.
“Iya!” Gatot menanggapi dengan tersenyum.
“Biar jelek tapi aku ini istrimu, Mas. Calon ibu. Nih bayinya terasa bergerak-gerak!” bisik Aisyah sambil menunjuk perutnya.
“Aku juga merasakannya, Aisyah.” Gatot memegangi perut itu. ”mulai sekarang kamu hati-hati ya.” pesannya dengan tangan mulai merambat ke atas, meraba bukit payudara Aisyah yang makin membusung indah.
“Mas Gatot ih, sukanya megangin yang ini!” pekik Aisyah kegelian.
”Habis enak sih,” Gatot nyengir, tapi tetap meneruskan rabaan tangannya.
”Mas juga hati-hati ya. Jangan salah bicara. Ingat kata orang-orang tua, Mas. Kalau istri lagi hamil, maka sang suami harus menahan diri dari perkataan buruk, juga perbuatan buruk, karena hal semacam itu bisa berpengaruh pada calon bayi.” kata Aisyah panjang lebar.
“Baiklah. Aku akan puasa bicara.” janji Gatot dengan sungguh-sungguh.
“Sanggup?” tagih Aisyah.
Gatot mengangguk dan setelah itu segera membopong tubuh montok Aisyah ke kamar sebelum wanita itu bertanya macam-macam lagi. Siang nan terik tidak menghalangi hasrat dan keinginan mereka untuk merangkai harapan yang semakin tumbuh bermekaran memenuhi taman impian.
Sambil berciuman, tangan Aisyah mulai melucuti kemeja Gatot, kemudian tangannya menyusup ke balik celana panjang sang suami dan meraih penis Gatot yang sudah menegang penuh. Aisyah meremas dan mengocok-ngocoknya lembut sambil mulai menjilati kepalanya yang kian membesar bagai pentungan secara perlahan-lahan.
”Ughh... Aisyah!” Gatot mendesah. Tak ingin kalah, ia juga menurunkan rok panjang sang istri beserta celana dalamnya.
Dengan tubuh sudah setengah telanjang, Aisyah terus memanjakan batang penis Gatot yang berurat tebal. Lahap ia jilati setiap titik di batang penis itu, sebelum akhirnya bibirnya mendarat di buah pelir Gatot. Aisyah menjilatinya sambil terus mengocoknya hingga membuat penis Gatot jadi kian mengeras saja. Mulut Aisyah terasa keluh saat mencoba menelan seluruh batang besar itu.
”Ahh... Aisyah!” Gatot kembali melenguh sambil kedua tangannya meremas rambut sang istri. Apalagi saat Aisyah kian ganas mempermainkan penisnya, hingga akhirnya Gatot merasakan penisnya mulai berdenyut-denyut kencang tanda kalau sebentar lagi akan segera meledak. Cepat ia menghentikan permainan tangan dan mulut Aisyah yang kian nikmat sebelum ia menyemburkan spermanya.
“S-udah, Aisyah. Nanti aku keluar!” keluhnya. Gatot segera menarik tubuh montok Aisyah dan merebahkannya di atas tempat tidur, lalu ia tindih dan mulai mengecupi mata serta bibirnya dengan lembut.
”Ehm... Mas!” rintih Aisyah ketika merasakan tangan Gatot yang mulai meremas-remas buah dadanya, sementara tangan satunya turun terus menuju paha hingga akhirnya berhenti begitu menyentuh rambut vagina Aisyah yang tercukur rapi.
Gatot mengusap pelan belahan bibir hangat milik Aisyah, juga biji klitorisnya yang mungil namun sangat menggemaskan. ”Ohh... terus, Mas!” desah Aisyah sambil mengelus-elus rambut hitam Gatot.
Gatot meneruskan usapan dan gesekannya sampai Aisyah merintih pelan tak lama kemudian. ”Sekarang, Mas! Lakukan sekarang! Aku tidak tahan lagi!” jeritnya kehilangan kontrol.
”Iya, Aisyah. Aku juga tak tahan!” balas Gatot sambil membuka kedua paha Aisyah lebih lebar hingga belahan vaginanya jadi makin nampak menganga sempurna. Dan sebelum Aisyah meminta dua kali, Gatot segera mengarahkan batang penisnya kesana.
Dengan penuh perasaan ia gesek-gesekkan kepala penisnya ke bibir vagina Aisyah, lalu mulai mendorongnya pelan saat dilihatnya Aisyah sudah menggelinjang geli. ”Ohh... Mas! Masukkan penismu! Cepat, aku nggak tahan lagi!!” erang Aisyah sambil menekan pantatnya, hingga amblaslah seluruh penis Gatot ke dalam liang vaginanya.
”Ahh... hmmp...” Aisyah mendesah nikmat di balik kecupan bibir liar Gatot.
Luar biasa, mengetahui kehamilannya membuat Aisyah bercinta dengan penuh gairah. Sedikit gesekan pada vaginanya saja sudah memberikan rangsangan yang sungguh luar biasa. Aisyah benar-benar dibuai permainan Gatot, setiap remasan dan kenyotan laki-laki itu pada payudaranya membuat Aisyah menggelinjang nikmat. Goyangan pinggul dan pantat Gatot juga membuat nafas Aisyah turun naik. Hari itu setiap sentuhan maupun hujaman Gatot terasa lebih nikmat sejuta kali dibanding biasanya. Maka beberapa saat saja, Aisyah sudah berada di ambang klimaksnya.
”Aaahh...” Orgasme yang begitu hebat menerpa tubuh montok Aisyah, membuatnya jadi mendesah-desah dengan tubuh menggelinjang dahsyat. Cairan kewanitaannya keluar dengan deras dan banyak sekali, yang langsung membasahi batang penis Gatot yang masih menancap dalam.
Aisyah terus memejamkan mata menikmati sisa-sisa orgasmenya saat Gatot mulai kembali menggerakkan pinggulnya. Laki-laki itu memang belum keluar, dan Aisyah tentu saja bisa mengerti.
”Bagaimana, Aisyah, enak kan?” tanya Gatot sambil tangannya meremas payudara Aisyah yang membusung indah.
”Ssh... iya, Mas. Enak!” Aisyah mengangguk mengiyakan sambil mulai menggeliat.
Gatot semakin mempercepat kocokannya. Tetap terasa lembut tapi lebih dalam. Aisyah jadi kembali menikmati. Perlahan nafsunya jadi timbul kembali. Ia semakin rileks ketika penis panjang Gatot terbenam semakin dalam di lorong liang vaginanya. Aisyah benar-benar pasrah diperlakukan apapun oleh suaminya, yang penting ia terus mendapat kenikmatan seperti ini.
Gatot menekan lebih dalam lagi serta terasa semakin bertenaga, bahkan sampai membuat tubuh molek Aisyah ikut terguncang-guncang hebat. Semakin lama juga menjadi semakin cepat, terkadang batangnya dikeluarkan dari vagina Aisyah, kemudian dihunjamkan lagi dalam-dalam hingga membuat Aisyah melenguh dan merintih berkepanjangan.
Tak selang beberapa lama, terlihat badan Gatot mulai bergetar sebelum tiba-tiba melolong panjang sambil kedua tangannya mencengkeram payudara Aisyah kuat-kuat. Dengan penis terbenam seluruhnya, laki-laki itu melepaskan orgasmenya. ”Aahhh… aku keluar, Aisyah! Ahh... ahh!” rintih Gatot penuh kenikmatan.
Dengan badan lemas dan dua kaki tetap melingkar di pantat Gatot, Aisyah bisa merasakan kemaluan Gatot yang menyemburkan cairan spermanya, ia dapat merasakan setiap semprotannya dengan begitu jelas. Gatot memang pandai memuaskan wanita. Meski dengan penis mulai melemas, ia masih terus menggoyang sampai akhirnya Aisyah mendapatkan kenikmatannya yang kedua tak lama kemudian.
”Aarghh...” erangnya dengan mata terpejam. Liang vagina Aisyah terasa begitu becek dan penuh. Bercinta kali ini sungguh memberikan sensasi lebih yang sangat-sangat nikmat.
Mereka berpelukan dan saling berciuman kecil menikmati sisa-sisa orgasme yang masih melanda, sampai Aisyah teringat kalau mereka ada acara yang harus dihadiri tidak lama lagi.
Di luar, malam sudah menjelang. Dari ujung komplek terdengar suara lagu berkumandang. Komplek memang ada gawe. Ada resepsi pernikahan. Aisyah segera mengajak Gatot untuk bersiap-siap. Setelah mandi bersama dan Aisyah sempat menolak permintaan Gatot yang mau minta nambah, mereka berganti baju di kamar. Mereka akan menghadiri resepsi pernikahan Dewi yang digelar malam ini.
“Bagaimana kalau nanti ketemu Bu Murti ya, Mas?” tanya Aisyah di sela-sela merias diri.
“Bersikap biasa saja kayak dulu, Aisyah.” balas Gatot.
Mereka berangkat bersama-sama menuju ujung komplek dimana pesta berlangsung. Yang datang memenuhi undangan ternyata cukup banyak, bahkan yang bukan warga komplek dan bukan tamu undangan juga datang berdesakan di sekitar rumah Dewi. Ada selentingan yang mengatakan kalau Murti akan datang. Berita itulah yang menyedot antusiasme warga sekitar komplek. Acara resepsi tidaklah terlalu menarik, justru kemunculan Murti yang paling ditunggu-tunggu.
Sampai akhirnya saat itupun tiba. Orang-orang yang berjubel berdesakan serentak mengarahkan mata ke satu tujuan, ke arah dimana seorang wanita melangkah dari kejauhan. Gatot dan Aisyah menahan rasa hati yang berdebar-debar. Semakin dekat wanita itu, maka semakin riuhlah orang-orang menyebut satu nama. ”Murti! Murti!” panggil orang-orang.
Tapi Murti tak menoleh sama sekali dan tetap berjalan lurus menuju pelaminan, melewati Gatot dan Aisyah yang berdiri dan tersenyum padanya. Murti seolah-olah tidak melihat senyum yang tulus itu. Gatot kecewa dalam hati, begitu pula Aisyah. Mereka sama sekali tidak menyangka Murti akan sedemikian angkuh.
“Ayo nyanyi, Murti! Goyang! Joget!” teriak orang-orang tak sabar ingin segera melihat penampilan Murti.
Murti telah didaulat naik ke atas panggung hiburan. Penontonpun mulai bersorak ketika Murti bernyanyi dan bergoyang dengan gerak tubuh yang mengundang. Di bawah sorotan lampu yang terang, seisi tubuh Murti juga terang membayang dari balik baju merah menyala yang tipis dan transparan. Hingar bingar dan teriakan-teriakan semakin liar, bahkan panggung telah dipenuhi orang-orang yang berjoget bersama Murti.
Gatot dan Aisyah pulang tanpa menonton tarian Murti yang liar. Mereka pulang dengan hati sedih. Bukan sedih karena dilupakan oleh Murti, tetapi sedih karena Murti telah terseret dalam gemerlap dunia yang penuh petaka. Betapa cepat Murti berubah sementara mereka masih tetap menganggap Murti sebagai sahabat lama, sahabat yang pernah bersama-sama merasakan suka duka, bahagia dan derita. Murti seakan lupa itu semua.
“Semoga Bu Murti menemukan jalan ya, Mas.” kata Aisyah sedih.
“Kita doakan saja, Aisyah. Bagaimanapun Murti sangat berjasa pada kita, terutama padaku.” balas Gatot.
“Aku yakin Bu Murti hanya khilaf, Mas. Tak mungkin beliau lupa begitu saja pada kita.” lirih Aisyah.
“Yah semoga saja, Aisyah. Minumlah obatmu, biar bayi di perutmu sehat.” kata Gatot.
Telinga mereka telah terkunci dari suara-suara yang mengusik hati. Malam mengantar mereka ke dalam mimpi. Tapi itu cuma semalam, karena keesokan harinya, kota dilanda prahara. Dimana-mana banyak sekali kerumunan massa.
Di depan gedung DPRD, ribuan orang berdemonstrasi menuntut pencabutan izin sebuah majalah remaja. Poster-poster yang bertuliskan anti pornoaksi, anti pornografi, dan sejenisnya banyak diusung para demonstran yang mulai anarkis. Gambar Murti dalam berbagai pose menantang juga bertebaran dimana-mana. Foto topless Murti yang dimuat sebuah majalah dewasa memancing kontroversi, menyulut kemarahan penduduk kota.
”USIR MURTI. USIR BUDAK SETAN. JANGAN BIARKAN KOTA JADI AJANG MAKSIAT.”
Gatot dan Aisyah terperangah. Mereka sama sekali tidak menyangka Murti akan berani senekad itu, melukai hati penduduk kota dengan ulahnya yang mencari popularitas belaka. Mereka sangat sedih, sangat terpukul mendengar Murti dihujat disana-sini, namun sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Gambar Murti dilempari dengan telur busuk dan dicoret-coret dengan tinta merah. Penduduk kota juga menuntut pengusiran Murti sesegera mungkin dan secepat cepatnya dari kota. Penduduk telah sampai pada puncak amarahnya.
“Ya Tuhan! Bu Murti, Mas.” ratap Aisyah tak percaya.
“Iya, Aisyah, entah setan apa yang merasuki jiwa Murti sampai nekad seperti itu.” balas Gatot.
“Kita harus bagaimana, Mas?” tanya Aisyah.
“Harus bagaimana lagi?” Gatot mengidikkan bahu. ”Murti sudah melupakan kita, Aisyah. Dia sudah asyik dengan dunianya sendiri. Apa daya kita untuk menolongnya?”
“Andai kita bisa melakukan sesuatu ya, Mas. Tapi penduduk kota sudah terlanjur marah.” sesal Aisyah.
“Tidak ada yang bisa kita lakukan, Aisyah. Kita hanya bisa berdoa dan berharap semoga Murti mau meminta maaf dan kembali seperti dulu.” jawab Gatot sambil merangkul istrinya itu.
Tetapi Murti sudah gelap mata dan keras kepala. Ia tidak bersedia memenuhi tuntutan warga untuk meminta maaf secara terbuka. Bahkan Murti balas menantang warga. Tentu saja warga marah. Tidak sampai setengah hari, kota telah dilanda huru-hara. Ratusan bahkan ribuan orang berduyun-duyun mendatangi perumahan Residence. Semakin bertambahlah massa yang ada di depan rumah Murti. Tapi Murti tidak mau menemui massa. Murti sudah benar-benar dibutakan oleh nafsu angkara.
Entah darimana asalnya, dalam sekejap api mulai menjalar dan membakar rumah mewah berlantai tiga itu. Di dalam rumah, Murti agak panik karena api sangat cepat menyebar. Ia tergopoh-gopoh memberesi pakaian dan dokumen-dokumen penting, lalu dengan kenekatan yang sangat berani dan luar biasa, ia menerobos kerumunan massa itu dengan memacu mobil sekencang-kencangnya, membuat orang-orang semburat seraya mengumpat dan melempari mobilnya. Murti selamat dari amukan massa, tapi tidak dengan rumah mewahnya yang hangus tanpa sisa, meninggalkan puing-puing yang membara.
***
“Kriiiingng...!!!” Handphone di saku baju Aisyah berdering. Gatot memberi isyarat agar Aisyah mengangkat telepon itu. “Assalamualaikum,” sapa Aisyah.
“Waalaikumsalam, Aisyah.”
“Bu Murti?” seru Aisyah antara gembira dan tak percaya. Gatot ikut terperangah tak percaya. “Bagaimana kabar ibu?” tanya Aisyah.
“Aku hanya mau minta maaf padamu, Aisyah. Pada Gatot juga.” sahut Murti.
“Ini Mas Gatot mau bicara sama Ibu.” Aisyah memberikan telepon pada Gatot, tapi…
“Jangan, Aisyah. Selamat tinggal ya,”
“Bu Murti! Bu! Dengar dulu!” Aisyah berteriak-teriak, namun tidak ada suara Murti lagi. Telepon terputus begitu saja. Aisyah coba menelpon balik tapi terlambat. Nomor HP Murti sudah tidak aktif dan di luar jangkauan. Aisyah bersandar lesu dan sedih di dada Gatot.
“Bu Murti telah pergi, Mas.” bisik Aisyah sambil terisak sedih.
“Apa yang dia bilang?” tanya Gatot.
“Tidak bilang apa-apa, Mas. Bu Murti hanya minta maaf pada kita dan mengatakan selamat tinggal.” jawab Aisyah.
“Mungkin memang sudah saatnya dia pergi, Aisyah. Dan dia pasti kembali. Yakinlah.” Gatot yakin Murti pergi hanya untuk menenangkan hati.
Ia yakin Murti akan kembali ke kota, kembali ke komplek dengan sikap seperti dulu. Ia mencintai Murti dalam hati terdalam. Mengasihi Murti yang telah memberi banyak sekali jasa pada kehidupannya. Gatot sadar bahwa tanpa Murti, ia bukanlah siapa-siapa. Murti telah mengangkatnya dari kebobrokan. Murti pula yang telah mempertemukannya dengan Aisyah, istri tercintanya.
Di gerbang batas kota, Murti berhenti dan menangis seorang diri di dalam mobilnya. Meratap dalam hati. Dunia berputar terlalu cepat baginya, membolak-balik halaman kehidupan yang berganti begitu saja. Betapa cepat kebahagiaan datang bertandang, namun secepat itu pula kebahagiaan pergi dan menghilang, berganti dengan kesedihan yang terus-terusan menggerogoti perasaan. Murti menyesali dirinya sendiri yang telah melupakan begitu banyak orang hanya demi sebuah pelarian.
Kematian Pak Camat, suaminya, memang cukup mengguncang jiwa, namun yang paling menyakitkan adalah siksaan yang ia terima, yang kini membuatnya trauma. Murti menghela napas dan mencoba tegar, mencoba melupakan apa yang terjadi hari ini dan bersiap menyongsong hari-hari yang terus berganti. Dengan berat hati ia tinggalkan kota yang memberinya begitu banyak memori. Ia telah putuskan untuk pergi ke kota lain dimana bisa meneruskan hidupnya yang sesaat lalu berhenti. Hidup harus dimulai kembali. Ia mengusap air mata dan menjalankan mobil, benar-benar meninggalkan kota.
Di dalam kota, huru-hara perlahan tapi pasti telah berhenti dan situasi yang sempat mencekam mulai pulih kembali. Orang-orang mulai pulang ke rumah masing-masing setelah memastikan Murti telah pergi. Majalah dewasa yang memuat foto-foto seksi Murti juga telah menutup kantornya. Ijin terbit majalah itu telah dicabut. Penduduk kota lega dan ketenangan kota kembali terkendali. Jalanan kota kembali sepi, menyisakan sampah disana-sini. Sampah yang dipenuhi wajah Murti. Beberapa orang iseng memungut sampah itu dan menempelkan di sepanjang tembok trotoar. Murti telah dianggap sampah oleh masyarakat kota dan mereka sukses membuang sampah itu dengan cara yang hina.
Mungkin hanya Gatot dan Aisyah saja yang tidak menganggap Murti sampah. Bagi keduanya, Murti adalah korban yang lebih pantas dikasihani. Menurut mereka, apa yang dilakukan oleh Murti hanyalah tak lebih dari sekedar pelarian hati yang tersakiti. Sakit hati itu yang mendorong Murti lari dari kehidupannya yang hakiki, mencari kepuasan demi bisa menyembuhkan luka batin dan Murti pasti ingin menghapus trauma. Itulah pemikiran Gatot dan Aisyah.
Mereka berjanji tidak akan pernah membenci Murti. Mereka berharap Murti segera kembali. Sebuah harapan yang bakal lama terwujud. Murti tak mungkin secepat itu kembali. Murti telah terlalu jauh pergi meninggalkan kota, meninggalkan mereka, dan meninggalkan semua kenangan yang pernah ada.
TAMAT

Saturday, March 18, 2017

,

Cerita Seks Cewek Jilboobs | Kenangan Hitam Masa Lalu 13

Murti menjanda. Sudah genap seratus hari sejak kematian Pak Camat, Murti menyandang status barunya. Bahkan orang-orang menambahi embel-embel di belakang status barunya sehingga lengkap sudah; Murti si janda kembang. Sudah menjanda, kaya pula. Tidak heran kalau banyak lelaki yang antri, baik yang terang-terangan ataupun yang sembunyi-sembunyi. Tapi Murti tetap setia bersama Gatot dan orang-orang komplek mulai yakin kalau Murti dan Gatot memang ditakdirkan untuk menjadi pasangan dewa-dewi. Sang dewa seorang duda, sang dewi baru saja menjanda. Cocok sekali.
Sekarang Murti sudah mau belajar nyetir dan gurunya adalah Gatot. Tiap hari sepulang dari mengajar, Murti langsung memanggil Gatot lewat dapur rumahnya. Kadang yang muncul adalah Gatot sendiri, tetapi kadang pula Aisyah. Seperti sore ini, ketika ia memanggil Gatot, yang nongol malah Aisyah.

“Mana Gatot, Aisyah?” tanya Murti penuh harap.
“Masih sholat, Bu Murti.” jawab Aisyah.
“Kalau sudah suruh ke rumah ya.” pesan Murti.
“Baik, Bu.” Aisyah mengangguk, lalu masuk ke dalam dan menuju kamar Gatot. Perlahan ia membuka pintu dan duduk di tepi tempat tidur dimana Gatot sedang berbaring. Gatot tidak sedang sholat seperti yang Aisyah katakan pada Murti, laki-laki itu masih tidur.
“Mas Gatot, bangun!” panggil Aisyah dengan suara merdu.
Gatot menggeliat malas dan entah sengaja atau tidak, tangannya hinggap di paha Aisyah. Gatot mengelusnya pelan sambil bergerak bangun. “Ada apa, Aisyah?” tanyanya dengan suara serak.
“Mas dipanggil Bu Murti di rumahnya.” kata Aisyah.
“Baiklah. Aku kesana ya,” sahut Gatot.
“Mas...” Aisyah memanggil.
“Apa lagi, Aisyah?” tanya Gatot penuh rasa sayang.
“Ah, tidak apa-apa. Hati-hati saja di jalan ya, Mas.” pesan Aisyah menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
“Hati-hati di jalan atau hati-hati bersama Murti?” goda Gatot seperti mengetahui isi batin Aisyah.
“Mas Gatot ini...” Aisyah tersenyum merajuk. ”Sudah pergi sana. Kasihan Bu Murti lama menunggu.”
Gatot mencium kening Aisyah sebelum pergi, tangannya juga sempat mampir ke dada Aisyah dan meremasnya pelan satu persatu, merasakan betapa empuk dan padatnya benda bulat itu. Ukurannya juga menjadi semakin besar karena keseringan dipegangi oleh Gatot. Memang belum ada ikatan resmi diantara mereka, tapi hal-hal semacam tadi sudah menjadi rutinitas yang Gatot dan Aisyah lakukan setiap hari.
“Hati-hati di rumah ya, Aisyah. Kunci saja pintunya.” pesan Gatot sebelum pergi.
“Baik, Mas.” Aisyah mengangguk, dan sekali lagi membiarkan Gatot meremas gundukan payudaranya.
Gatot meninggalkan Aisyah dan menuju rumah Murti. Tinggallah Aisyah seorang diri, duduk termenung di depan cermin sambil memperhatikan dirinya sendiri. Aisyah membandingkan keadaannya sebelum dan sesudah tinggal di rumah Gatot. Aisyah merasakan perubahan besar yang terjadi. Dulu sewaktu masih menetap di Cemorosewu, ia adalah sosok yang taat beribadah, tidak pernah melakukan hal-hal tabu yang melanggar norma agama dan norma susila. Ia dulu adalah sosok wanita yang benar-benar bersih dan suci, tanpa pernah tersentuh sedikitpun oleh tangan lelaki.
Tapi tidak dengan sekarang. Ia memang masih taat menjalankan sholat lima waktu, namun juga rajin melakukan hal-hal yang dulunya ia anggap tabu. Norma susila dan agama telah ia langgar. Tubuhnya telah tersentuh oleh tangan seorang lelaki. Kebersihan dan kesucian dirinya telah luntur digerus sensasi yang sangat menggoda hati.
“Masih pantaskah aku mengenakan kerudung ini?” pikirnya seorang diri.
Sementara Gatot sudah bersama Murti. Sejenak Gatot teringat Aisyah, tapi terganggu oleh suara Murti yang mendesah. Gatot berpaling dan mendapati seraut wajah Murti yang semakin bening. Ia kembali memfokuskan diri ke jalan raya.
“Apa yang kamu rasakan saat ini, Murti?” tanya Gatot membuka obrolan.
”Aku merasa bebas, Tot. Benar-benar sangat bebas.” kata Murti sambil merentangkan kedua tangannya, seperti berusaha memamerkan tonjolan buah dadanya yang besar kepada Gatot.
“Kamu memang bebas, tapi harus kamu ingat jangan sampai kebebasan itu membuatmu bablas.” pesan Gatot.
“Jangan mengajariku, Tot. Bukankah kebebasanku ini menguntungkanmu juga, menguntungkan kita?” sahut Murti tidak terima.
“Aku tidak berharap keuntungan apapun dari keadaanmu ini, Mur.” tegas Gatot.
“Munafik.” Murti mencibir. ”berapa kali kamu tidur denganku selama Pak Camat masih hidup? Sekarang Pak Camat sontoloyo itu sudah mati dan kamu bebas meniduriku kapan saja, berapa kalipun yang kamu inginkan. Bukankah begitu?” tuduh Murti.
“Pikiranmu tidak sama dengan pikiranku, Mur.” Gatot menggeleng. ”Aku malah ingin kebobrokan ini berhenti.” katanya kemudian.
“Oh, jadi begitu ya?” Murti berkata ketus. ”Setelah kamu puas mencabik-cabik hati dan tubuhku ini, kamu mau meninggalkanku begitu saja? Jangan sampai aku menganggapmu pengkhianat, Tot!” ancamnya.
“Aku tidak berkhianat, Mur. Ini demi mengakhiri jalan kita yang sesat.” jelas Gatot.
Murti mendengus. Ia pindah posisi dan duduk di depan Gatot, masih dalam satu jok. Ia mengambil alih kemudi dari kekuasaan Gatot sementara pantatnya ia tancapkan di pangkuan Gatot. Pantaslah kalau Aisyah khawatir bila Gatot sudah bersama Murti karena setelah menjadi janda, Murti semakin terang-terangan dan semakin berani. Contohnya ya kali ini.
“Pegangi pahaku, Tot!” pinta Murti tegas.
“Kamu nggak bakalan jatuh, Mur. Ini belajar mobil, bukan belajar motor.” jelas Gatot santai.
“Apa sih susahnya membantu aku?” sungut Murti ngambek.
“Kamu sudah mulai mahir, Mur. Cobalah berani nyetir sendiri.” kata Gatot.
Murti mendorong Gatot kesal. Gatot jadi tidak punya ruang untuk sekedar melonggarkan badan. Mau tidak mau ia harus memegangi pinggul Murti agar tidak merosot ke bawah. Pinggul yang semakin bulat bagai biola. Murti memang telah tampil beda dan bergaya anak muda. Rambutnya dipotong pendek. Bulu matanya dibikin lentik. Bajunya model tank top tanpa lengan. Bawahnya dipadu dengan rok mini. Murti yang cantik jadi makin menarik. Tidak ada sama sekali kerut kerut di wajah dan kulitnya. Semua sama seperti puluhan tahun silam. Masih sangat kencang.
“Semakin muda saja kamu, Mur.” bisik Gatot.
“Semakin membuatmu tergoda kan?” Murti tersenyum.
Wanita pembelenggu memang punya seribu cara dan seribu pesona untuk membuat pria terjatuh. Itulah Murti, wanita pembelenggu paling berani yang membuat Gatot tak kuat hati. Kalau sudah begitu, Gatot langsung membayangkan wajah Aisyah. Ia harus bertahan demi cintanya pada Aisyah.
“Sudah cukup untuk hari ini, Mur. Dan kamu sudah bisa kemana-mana tanpa sopir lagi. Kamu bisa jadi sopir buat dirimu sendiri.” kata Gatot sambil menjauhkan tubuhnya.
“Bagaimana kalau kamu kuberi gaji tiga kali lipat?” tantang Murti.
“Aku menghargai jasa dan pengorbananmu padaku, Mur. Tapi aku harus mulai memikirkan diriku sendiri, hidupku sendiri.” tampik Gatot.
“Kita bisa hidup bersama sampai mati, Tot. Aku mencintaimu.” Murti memandang Gatot penuh rasa sayang.
“Akupun pernah mencintaimu, Mur. Tapi itu sudah lama sekali. Dan sekarang aku mencintai orang lain.” kata Gatot terus terang.
“Siapa dia, Tot! Siapa yang berani merenggut hatimu dariku?” seru Murti tak terima.
“Kelak kamu akan tahu siapa dia.” Gatot berkilah, tidak ingin menyeret Aisyah dalam masalah ini.
“Aku tidak sabar untuk tahu siapa dia. Biar aku cari sendiri.” tekad Murti. Ia mengantar Gatot sampai depan rumahnya. Murti berbasa-basi sejenak dengan Aisyah lalu pergi lagi entah kemana, sama sekali tidak curiga kalau gadis di depannya inilah yang sudah merebut hati pujaan hatinya..
Gatot senang karena Murti sudah pintar menyetir. Tapi melihat wajah Aisyah yang mendung, kesedihannya langsung menggantung. Gatot merangkul bahu Aisyah dan membawanya masuk ke dalam rumah. Mendung di wajah Aisyah masih belum sirna. Senyum di bibir merah itu tak kunjung merekah. Dan mata bening itu seakan menahan airmata agar tidak tumpah. Tapi itu gagal. Airmata Aisyah jatuh di dada Gatot.
“Menangislah sepuasmu, Aisyah. Habiskan kesedihanmu,” kata Gatot sabar.
“Mas Gatot jahat,” lirih suara Aisyah tersendat-sendat di sela tangis.
“Aku memang jahat, Aisyah. Aku membuatmu cemburu kan?” tebak Gatot.
“Bu Murti, Mas. Kenapa Mas Gatot tidak bisa lepas darinya?” tanya Aisyah.
“Aku ingin seperti itu, Aisyah. Tapi kebaikan Murti belum sempat kubalas.” sahut Gatot.
“Tidak adakah cara lain yang bisa mengurangi cemburu ini, Mas?” Aisyah semakin masuk ke dalam rengkuhan Gatot, menumpahkan cemburu yang serasa menghanguskan jiwa. Dihelanya napas lalu mendongak, sesaat diam begitu keningnya dikucup oleh Gatot.
“Bu Murti semakin cantik ya, Mas?” tanya Aisyah dengan suara lebih jelas.
“Itu penilaianmu?” Gatot bertanya balik.
“Juga semakin berani berpakaian, Mas.” tambah Aisyah.
“Kamu iri?” Gatot tersenyum sambil membelai wajah cantik Aisyah.
“Aah, Mas Gatot ini. Aku serius, Mas.” Aisyah merajuk.
Murti memang semakin berani, bukan hanya dalam hal penampilan, juga sudah semakin berani pergi sendiri. Masa-masa bebas ia nikmati dengan puas. Kini Murti sudah berada di dalam ruang karaoke salah satu kafe. Ia menyanyi sampai puas dengan ditemani sebotol minuman kelas atas. Pengunjung bersorak dan sebagian ikut berkaraoke dan berjoget bersamanya. Murti bagai bintang baru yang menyihir pecinta karaoke. Sampai larut malam Murti berada di kafe.
Murti bukan lagi seorang guru dan bukan pegawai negeri. Seisi kota sudah tahu kabar itu. Murti dipecat karena sering mangkir dari tugasnya mengajar. Murti dipecat karena murid-muridnya sering memergoki gurunya tiap malam keluyuran di kafe-kafe. Murti dipecat karena dianggap merusak citra pegawai negeri sipil. Tapi Murti tidak serta merta melarat. Malah kini menjadi salah satu konglomerat. Rumahnya yang di komplek sudah dijual pada Aisyah. Murti kini tinggal di pusat kota, di perumahan residence dan menempati rumah super mewah bertingkat tiga. Hanya untuk dirinya sendiri. Apa pekerjaan Murti setelah dipecat tidak ada yang tahu dengan jelas. Yang pasti Murti sering didatangi orang dan wartawan. Sampai seisi komplek akhirnya tahu kalau Murti jadi bintang film dan penyanyi. Itu setelah warga komplek menonton sinetron yang dibintangi oleh Murti.
“Itu kan Bu Murti ya, Mas?” kata Aisyah pada Gatot saat nonton tv berdua. Seperti biasa, pakaian atasnya terbuka, menampakkan gundukan payudaranya yang besar, yang selalu jadi mainan favorit Gatot dikala senggang.
“Iya. Dia sudah merubah nasibnya, Aisyah.” kata Gatot sambil terus meremas dan mengusap-usapnya pelan. Putingnya yang mungil ia pilin-pilin ringan sambil sesekali menjilat dan mengecupnya lembut kalau sudah merasa tak tahan.
“Uhh... juga sikapnya ya, Mas. Ikut berubah,” lirih Aisyah diantara rintihannya. Hisapan Gatot pada ujung buah dadanya terasa geli sekali, namun Aisyah sama sekali tidak berniat untuk menghentikannya karena terus terang ia juga menikmatinya.
”Iya,” Gatot membenarkan perkataan Aisyah. Sikap Murti memang berubah seiring perubahan nasibnya. Setiap kali bertemu di jalan atau di pusat perbelanjaan, Murti hanya mau melambaikan tangan tanpa mau bertegur sapa, apalagi berbagi senyuman. Gatot sadar senyum Murti kini mahal dan berharga puluhan juta. Murti hanya mau tersenyum di televisi, tersenyum kepada orang-orang yang telah membayarnya berjuta-juta.
Murti seperti kacang lupa akan kulitnya, lupa pada komplek dan tanah kelahirannya, tempat nenek buyut dan orangtua serta suaminya dikubur. Murti tidak sekalipun mengunjungi komplek sejak namanya melejit. Murti lebih suka mengunjungi tempat dimana banyak orang mengagumi dan mengelu-elukan namanya. Gatot tentu makin senang karena perubahan nasib dan sikap Murti berimbas sangat besar pada diri dan kehidupannya. Ia kini bisa lebih mendekatkan diri dan memadukan hati bersama Aisyah.
“Apa kita perlu mengundang Bu Murti, Mas?” tanya Aisyah sambil mengusap mesra puncak kepala Gatot yang masih asyik menyusu.
“Tidak usah, Aisyah. Kita gelar resepsi sederhana saja. Cukup orang-orang komplek dan kerabatmu dari Cemorosewu.” jawab Gatot dengan mulut penuh bongkahan payudara Aisyah. Ia terus mencucup dan mengulumnya tanpa pernah merasa bosan.
“Saya sudah pesan dua ratus undangan, Mas. Semoga memberi restu pada pernikahan kita nanti.” wajah Aisyah memerah, tampak sangat menikmati sekali apa yang dilakukan Gatot pada tubuh sintalnya.
“Puji syukur, Aisyah. Sudah mantapkah hatimu?” tanya Gatot sambil mencucup puting susu kiri Aisyah kuat-kuat.
“Auw!” Aisyah menggelinjang geli, namun segera meminta Gatot agar melakukan juga pada yang kanan. ”Ehm... sudah, Mas. Saya ikhlas lahir batin menjadi istri Mas Gatot.” bisiknya dengan paras berbinar.
“Terima kasih, Aisyah. Aku akan berjuang menjadi suami yang baik buatmu.” Setelah mengangguk, Gatot melanjutkan kembali jilatan dan hisapannya di buah dada Aisyah.
“Saya percaya mas pasti bisa.” Yakin Aisyah. “Sudah ashar, Mas. Bukankah setelah ini Mas ada undangan ke musholla?” ingatnya sambil menarik kepala Gatot menjauh.
“Hampir aku lupa.” Gatot tersenyum, ”Terima kasih sudah mengingatkan.” katanya sambil kembali mencium puting Aisyah untuk yang terakhir kali.
Itulah Gatot yang sekarang. Ia telah menjelma kembali seperti saat masih kanak-kanak dulu. Ia kembali bahkan semakin rajin ke musholla untuk ikut pengajian dan sholat berjamaah. Suara merdu Gatot kembali terdengar lima kali dalam sehari mengumandangkan adzan. Dan di hari minggu seperti ini, Gatot punya aktivitas membantu Pak Ustadz mengajar anak-anak komplek mengaji dan qiroah.
Penduduk komplek sangat senang dan menaruh hormat padanya. Orang-orang mulai suka membandingkan Gatot dan Murti. Kata orang-orang komplek, lebih baik sesat terlebih dahulu lalu sungguh-sungguh tobat daripada sebaliknya. Kata orang-orang, Murti adalah contoh yang tidak baik. Kalau ingin jadi anak baik, tirulah Gatot, kata orang-orang tua pada anaknya. Tapi Gatot selalu meluruskan. Yang paling patut ditiru adalah hal-hal yang membawa kebaikan, jangan meniru jalan sesat yang pernah ia jalani. Itu selalu dikatakan Gatot.
Kebaikan itulah yang kini menulari komplek. Orang-orang tua pula yang menganjurkan Gatot agar segera menikahi Aisyah agar terhindar dari fitnah.  Gatot tidak marah dan langsung memenuhi anjuran itu. Secara agama ia telah sah menjadi suami Aisyah disaksikan penghulu desa. Tinggal mengesahkan lewat jalur resmi. Dan resepsi pernikahan itu sudah dirancang, tinggal tunggu sebar undangan.
Lain ladang lain pula belalang. Lain Gatot tentu lain pula Murti. Sekarang Murti ada di salah satu pantai terkenal untuk menjalani sesi pemotretan. Ia dijadikan model sebuah majalah dewasa. Murti sudah siap dengan kostumnya berupa bikini merah hati. Gambarnya diambil beberapa kali dalam berbagai pose dan gaya yang berani nan menantang. Berlatar belakang pantai biru dan pantulan jingga mentari yang hampir tenggelam, lekukan tubuhnya sungguh indah dan mempesona, membuat fotografer tidak sedetikpun memicingkan mata.
“Lebih lebar, cut!” teriak sang pengarah gaya.
“Kakiku sakit,” rintih Murti.
“Sekali lagi. Setelah ini selesai.” kata laki-laki berkaca mata itu.
Murti kembali berpose, kali ini berbaring telentang di hamparan pasir putih. Tangan dan kakinya terentang lebar-lebar, membuat dadanya menghujam tajam dan menjulang ke langit. Kakinya membentang sangat lebar dan sudut-sudut selangkangannya sangat jelas membayang. Sang pengarah gaya tertawa puas, fotografer juga puas.
“Mbak Murti adalah model paling berani yang kami kontrak,” kata pengarah gaya.
“Saya hanya berusaha profesional, Mas. Sesuai perjanjian dalam kontrak.” kata Murti sambil membersihkan punggungnya dari pasir.
“Kami yakin edisi terbaru kami nanti laku keras. Silahkan kalau Mbak Murti mau mandi.”
“Terima kasih. Saya mau langsung pulang saja.” sahut Murti.
Selesai pemotretan, Murti langsung meninggalkan pantai. Entah kenapa ada sebuah kerinduan menyelinap. Ia rindu pada orang-orang yang telah terlupakan, terutama sekali ia rindu pada Gatot. Ia ingin sekali berkunjung ke komplek, tapi takut dan ragu. Ia takut akan dihujat oleh warga komplek yang telah membencinya. Ia ragu apakah Gatot masih mau menerimanya seperti dulu atau sudah berubah. Bagaimana pula dengan Aisyah, masihkah Aisyah menganggapnya seorang ibu dan kakak. Murti terbayang-bayang semua itu dan matanya berlinang. Ia memutar mobil dan mengurungkan niat berkunjung ke komplek.
Ditolehnya jam yang melingkar di lengan lalu menggumam pelan, “Aku harus syuting film.”
Syuting dan syuting terus, itulah kesibukan sehari-hari Murti. Tak peduli siang malam ia harus menjalani semuanya demi mendapatkan uang. Dengan cepat uang bisa ia dapat, namun secepat itu pula uang itu lenyap. Murti selalu merasa serba kurang. Kurang cantik, kurang seksi, dan kurang yang lain yang membuatnya rajin ke salon, rajin ke pusat-pusat senam demi menjaga tubuh.
“Mbak Murti,” sebuah suara memanggil.
Murti terhenyak. Ia membuka kaca mobil dan mendapati wajah yang sangat dikenalnya. Sayang sekali ia berada di lampu merah. “Hai, Dewi.” balasnya sambil melambaikan tangan.
“Mbak, ini undangan buat mbak. Datang ya,” kata Dewi.
“Kamu mau nikah?” tanya Murti.
“Iya. Maaf, saya buru buru. Ayo, Mbak.” Dewi pamit permisi.
Murti menyimpan undangan dari Dewi dan kembali menjalankan mobil karena lampu telah berubah hijau. Masih ada kawan lama yang tidak membencinya. Dewi masih sudi mengundangnya ke pesta pernikahan. Apakah Dewi juga mengundang Gatot? pertanyaan itu berseliweran di kepala Murti.
Tentu saja Dewi juga mengundang Gatot karena kini mereka bertetangga. Dewi telah membeli rumah di komplek, rumah milik almarhum Mbah Surti. Dewi bahkan kini telah sampai di depan rumah Gatot. Dewi memarkir mobilnya dan berjalan ke pintu rumah Gatot.
“Assalamualaikum,” teriaknya memberi salam dan mengetuk pintu.
“Waalaikum salam,” terdengar suara renyah menjawab salam. Tak lama kemudian pintu terbuka bersama seraut wajah cantik. “Mbak Dewi, silahkan masuk, Mbak.” kata Aisyah ramah
“Mana Gatot, Aisyah?” tanya Dewi.
“Tadi diajak Pak RT. Mbak Dewi ada perlu apa?” tanya Aisyah.
“Nih undangan buat kalian. Jangan sampai nggak datang ya?” Dewi mengancam sambil tersenyum.
“Mbak Dewi nikah? Kenapa nggak bilang-bilang, Mbak?” Aisyah terlihat ikut senang.
“Sengaja kubuat surprise buat kamu dan Gatot.” jawab Dewi.
“Selamat ya, Mbak. Kami pasti hadir.” janji Aisyah.
“Oh ya, Aisyah. Baru saja aku bertemu, Murti. Jadi sekalian kuundang dia.” terang Dewi.
“Bagaimana kabar Bu Murti, Mbak?” tanya Aisyah penasaran.
“Sepertinya baik baik saja. Murti semakin sering ada di tv ya,” kata Dewi.
“Iya, Mbak.” Aisyah mengangguk. ”Karirnya semakin maju. Saya ikut bersyukur.”
“Tapi Murti juga berubah, Aisyah. Aku sekarang jadi asing dengannya.” Dewi menggumam.
“Itulah, Mbak. Bukan cuma Mbak Dewi saja yang merasakan perubahan itu, saya dan Mas Gatot juga.” dukung Aisyah.
“Sangat disayangkan ya, Aisyah. Padahal kalian, terutama Gatot, adalah orang-orang terdekat Murti.” sahut Dewi. ”Sudah ah. Aku pulang dulu. Sampaikan salam ke Gatot. Assalamualaikum,” wanita itu kemudian pamit.
“Waalaikumsalam,” jawab Aisyah sambil mengantar ke depan pintu.
Sepeninggal Dewi, tak sampai sepuluh menit kemudian, Gatot pulang. Bahkan Aisyah masih belum menyimpan undangan yang tergeletak di atas meja. Aisyah segera membawa undangan itu dan menyusul Gatot ke dalam ruang tengah. Ia menggelar karpet dan memberi Gatot bantal.
“Ada undangan dari Mbak Dewi, Mas.” bisiknya mesra.
“Undangan apa, Aisyah. Biar jelas, bicara dekat sini.” kata Gatot.
Aisyah menggeser duduknya dan merapat ke telinga Gatot, membisikkan sesuatu yang membuat Gatot terkejut. Gatot segera menyambar undangan dari tangan Aisyah, tapi Aisyah mempermainkan undangan itu hingga Gatot jadi gemas. Sekali tubruk, Aisyah terguling-guling di karpet dan Gatot memungut undangan yang terlepas dari tangan Aisyah.
“Akhirnya menikah juga si Dewi.” kata Gatot gembira.
“Mas kenal calon suaminya?” tanya Aisyah.
“Tidak terlalu kenal, tapi aku tahu Aldo adalah pegawai kecamatan juga.” jawab Gatot.
“Berarti cinta lokasi dong. Enak ya, Mas, mereka sama-sama pegawai negeri.” kata Aisyah.
“Hei, kamu menyesal ya kawin sama duda tanpa pekerjaan sepertiku?” todong Gatot.
“Ihh, siapa juga yang menyesal. Rasakan ini,” Aisyah menghujani Gatot dengan cubitan bertubi-tubi. Pada cubitan terakhir, Gatot menahan jemari Aisyah tetap di bawah perutnya. Bahkan ia menggesernya sedikit hingga Aisyah bisa menyentuh batang penisnya yang sudah mulai menegang.
”Mas?” Aisyah menatap sayu, perlahan cubitannya melemah dan tidak terasa sama sekali karena ia sudah berada di bawah himpitan tubuh kekar Gatot. Malah yang ada, Aisyah mulai mengusap-usap penis Gatot perlahan hingga membuatnya jadi semakin besar dan menegang sempurna.
Merasa mendapat balasan, Gatot mencium pelan bibir tipis Aisyah. Mata Aisyah terpejam, menikmati ciuman itu. Gatot melanjutkan dengan memainkan lidahnya di mulut Aisyah, yang dibalas oleh gadis itu dengan hangat. Perlahan tapi pasti, tangan Gatot merayap ke dada Aisyah, lalu menekan-nekan bukit indah itu perlahan.
”Auh! Mas!” Aisyah melenguh, sama sekali tidak ada penolakan. Malah semakin Gatot meremas, semakin kuat Aisyah memagut.
”Aisyah, Mas pengen!” bisik Gatot manja.
”Lakukan, Mas. Aisyah sudah sepenuhnya milik Mas.” jawab Aisyah sambil mengangguk pelan dan tersenyum.
Ya, yang mereka lakukan memang bukan lagi zinah, malah sebuah amanah. Kini Gatot sudah bisa memiliki Aisyah seutuhnya, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Gatot berhak atas diri Aisyah dan Aisyah wajib menyerahkan dirinya dengan ikhlas. Lampu telah dipadamkan dan karpet telah dihamparkan. Dalam keremangan malam, Gatot melanjutkan sentuhannya. Sambil berciuman, tangannya mulai merambah ke dalam baju Aisyah.
”Shh...” Aisyah mendesah halus saat tangan Gatot juga mengusap kulit pahanya, dan terus merayap hingga jauh ke pangkal paha. Disana Gatot menggelitik nakal yang dibalas oleh Aisyah dengan meremas tonjolan di celana Gatot perlahan.
”Adik kamu sudah bangun, Mas.” bisiknya mesra dengan tangan terus mengusap-usap.
”Dekat denganmu selalu membuatnya bersiaga, Aisyah.” jawab Gatot dengan birahi memuncak. Ia sudah tidak peduli lagi dimana mereka berada. Segera diangkatnya kaos Aisyah sehingga ia bisa meremas bukit kembar itu sesuka hati. Mereka juga terus berciuman. Penuh nafsu.
”Hmm... shh... uuh...”Aisyah mendesah saat Gatot menciumi lehernya yang putih jenjang. Laki-laki itu juga membuka tali branya lalu menjilati bukit Aisyah yang kenyal dengan begitu rakus. Gatot menjelajahinya dengan sapuan lidah dan ciuman mesra, ia juga menekan-nekan bukit itu serta menghisapi putingnya yang tegak memerah secara bergantian.
Ciuman dan jilatan itu membuat Aisyah merintih lirih, ”Mmh... Mas! Shh... ahh...” Ia mengambil jari Gatot lalu mengulumnya.
Gatot terus menjilati puting Aisyah secara perlahan sambil sesekali menggigit-gigit kecil. Suara desahan Aisyah membuat penis Gatot jadi bertambah keras. ”Mhh... shh... ahh... terus, Mas!!” Aisyah mengerang penuh nafsu.
Gatot sekarang meremas dan mengangkat kedua bukitnya, menghisap sekaligus menggigiti putingnya secara bergantian. Aisyah membalas dengan membuka retsleting Gatot. Untungnya Gatot memakai celana yang berkancing hingga dengan mudah Aisyah melakukannya. Wanita itu segera meremas penis Gatot begitu benda coklat panjang itu meloncat keluar. Dengan gerakan maju-mundur, Aisyah mulai mengurut-urut penis Gatot yang sudah mulai mengeluarkan pelumas.
Mereka berpindah posisi. Dengan setengah duduk, Gatot membuka rok panjang Aisyah. Wanita cantik yang sudah resmi jadi istrinya itu menatap sayu. Gatot hanya tersenyum dan meneruskan aksinya. Aisyah membantu dengan meluruskan kedua kakinya, memudahkan Gatot untuk membuka seluruh bajunya. Kini Aisyah cuma mengenakan celana dalam saja. Tubuh sintalnya terekspos jelas di depan Gatot, begitu putih dan mulus sekali. Gatot tak berkedip saat melihatnya. Berapa kalipun ia menatap tubuh Aisyah, ia selalu menyukainya.
Dari sela-sela celana dalam, Gatot menikmati ketebalan bulu-bulu kelamin Aisyah. Juga belahan vaginanya yang sudah melembab sempurna. Pelan Gatot menggerakkan jarinya, memainkan klitoris Aisyah yang terasa mengganjal di depan lubang selangkangannya. Perbuatannya itu membuat Aisyah jadi mendesah penuh nafsu. ”Mas! Sshh... hmm...”
Gatot menunduk untuk mulai menciumi paha Aisyah yang putih mulus sambil terus memainkan jari di arah labium minoranya. Dengan gemas ia gigiti paha perempuan cantik itu, lalu menempelkan lidahnya di pangkal paha Aisyah yang sudah membuka lebar. Aisyah meremas kedua bukitnya sendiri penuh nafsu, dengan lidah menjilati bibirnya berulang-ulang.
”Ouh... Mas!” rintih Aisyah saat Gatot membuka celana dalam putihnya. Tercium bau khas vagina yang lembab. Gatot segera menciumi vagina yang mulai basah berlendir itu.
”Auw! Auw! Ahh...” erangan dan desahan Aisyah semakin kuat terdengar saat lidah Gatot mulai menusuk-nusuk ke dalam liang sempit itu. Sesekali Gatot juga menjilati klitoris Aisyah dan menghisapnya pelan.
”S-sudah, mas! Geli! Auwh...” rintih Aisyah begitu Gatot memasukkan satu jari untuk memijat gelembung kecil di dinding dalam klitorisnya. Ia menjambak rambut sang suami. Kaki Aisyah mengejang, mengikuti gesekan jari Gatot di titik sensitifnya.
”Ahh... Mas! Shh... terus… ahh... ahh…” lagi-lagi Aisyah mengerang saat Gatot menggerakan lidahnya naik-turun di permukaan klitorisnya. Vagina gadis itu sudah basah kuyup oleh lendir bercampur air ludah Gatot.
Gatot terus menghisap sambil jarinya menjalar-jalar di bagian dalam liang vagina Aisyah, menggerakkannya keluar-masuk, sebelum akhirnya kembali memijit-mijit biji klitoris gadis itu. Sentuhan Gatot membuat desahan dan erangan Aisyah menjadi semakin cepat, menandakan gejolak birahi yang semakin memuncak. Tidak beberapa lama, Aisyah tampak mengejang pelan.
”Mas! Ahh... a-aku... mhh... shh...” Tubuh Aisyah mengejang-ngejang sesaat dengan diiringi oleh erangan nafasnya yang berat. Di puncak klimaksnya, Gatot menatap wajah Aisyah yang terpejam rapat. Begitu indahnya pemandangan ini.
Puas menikmati orgasmenya, Aisyah membuka mata dan mencium mesra pipi Gatot. ”Terima kasih ya, mas. Sekarang giliran kamu,” bisiknya dengan tangan kembali mengurut-ngurut penis Gatot yang semakin menegang penuh.
”Jilat donk!” pinta Gatot sambil tertawa.
”Yee... maunya!” balas Aisyah, namun tetap membuka mulutnya dan mulai menelan batang coklat panjang itu. Seperti memakan es krim, ia memainkan lidahnya di batang penis Gatot sambil mengurut-ngurut kantongnya yang berisi dua bola mungil.
”Ini isinya apaan sih?” tanya Aisyah sambil bibirnya terus menghisap.
”Ugh... itu yang bikin kita bisa punya anak, Aisyah.” selain erangan nikmat, hanya itu yang keluar dari mulut Gatot.
Aisyah mengangguk mengerti dan terus mengulum batang penis Gatot sampai memerah dan basah seluruhnya. Setelah dirasa cukup, dan sebelum Gatot meledak duluan seperti kemarin, cepat-cepat Aisyah menarik mulutnya.
”Sudah, Mas. Lakukan sekarang!” pintanya dengan mata menatap mesra.
Gatot tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Ia belai rambut Aisyah yang panjang sepundak. Tanpa menunda lebih lama, dengan posisi setengah tidur, Gatot menuntun Aisyah agar duduk di atas batang penisnya sambil berpegangan pada bahunya. Menggunakan tangan kanan, Aisyah menumpu keseimbangan, sementara tangan kiri ia gunakan untuk menuntun penis Gatot ke arah lubang kenikmatannya.
”Ahhh...” mereka mendesah bersama-sama saat alat kelamin keduanya mulai bertemu dan bertaut mesra satu sama lain. Meskipun bukan perawan lagi, vagina Aisyah tetap terasa sempit. Gatot jadi terasa terus memperawani gadis itu. Mungkin karena ukuran penisnya yang cukup besar, atau memang lubang di tubuh Aisyah yang terlalu mungil. Yang jelas, mereka jadi sama-sama nikmat karenanya.
Dengan gerakan perlahan, mereka mulai bercinta dalam posisi duduk. Aisyah memeluk tubuh Gatot agar tetap seimbang, sementara Gatot balas memegangi bulatan payudara Aisyah agar tidak lari kemana-mana. Mereka juga kembali berpagutan mesra.
”Ughh... Aisyah... sempit sekali... shh... ahh... enak!” rintih Gatot penuh kenikmatan.
”Iya Mas... shh... aku juga enak!” balas Aisyah tak mau kalah. Karena berada di atas, ia jadi menguasai permainan. Sesekali Aisyah memutar-mutar pantatnya hingga membuat penis Gatot serasa dipijit-pijit ringan. Ia juga menggosok-gosok kantung ajaib milik Gatot hingga membuat laki-laki itu makin menggelinjang kegelian.
”Ughh... Aisyah!” Gatot melepaskan ciumannya agar bisa mengerang. Dilihatnya batang kemaluannya yang bergerak keluar masuk di vagina sempit Aisyah. Bibir vagina itu terlihat seperti mengulum-ngulum batang penisnya. Suara berdecak terdengar sesekali akibat vagina Aisyah yang sudah begitu basah berlendir.
”Ehm... enak, Mas?” tanya Aisyah sambil terus mengoyangkan pinggulnya.
Gatot mengangguk dan berbisik, ”Ganti posisi, Aisyah!”
Tanpa perlu disuruh dua kali, Aisyah segera melepaskan tautan alat kelamin mereka dan mengambil posisi merangkak. Gatot menciumi pinggulnya sejenak sebelum kembali memain-mainkan ujung penis di mulut vagina sang istri, membuat Aisyah jadi mendesah lirih karenanya.
”Ughh... shh... Mas... cepetan!” Tangan kiri Aisyah menekan pantat Gatot agar segera memasukkan batang penisnya.
Gatot langsung kembali membenamkan kemaluannya di lubang kenikmatan sang istri. Sleep! Jelebb!
”Ughh...” Aisyah mengerang nikmat bercampur perih. Apalagi saat Gatot mulai bergerak maju mundur penuh nafsu, erangan dan desahannya menjadi semakin keras. Aisyah berusaha membantu proses itu dengan memaju mundurkan pantatnya berlawanan dengan irama tusukan Gatot. Terus seperti itu sampai belasan menit kemudian, tampak Aisyah mulai mempercepat gerakannya.
”Mas! Shhaa... arghhh... a-aku...” tubuh Aisyah mengejang mencapai klimaksnya. Cairan hangat mengalir deras membasahi batang penis Gatot, yang dibalas oleh Gatot dengan semakin mempercepat gerakan pinggulnya agar ia bisa segera muncrat menyusul sang istri.
”Aisyah! Oughh... nikmatnya!” rintih Gatot sambil menekan kuat-kuat batang penisnya ke liang rahim Aisyah berbarengan dengan cairan spermanya yang menyembur deras. Cairan kental itu berhamburan memenuhi lorong kelamin Aisyah hingga membuatnya jadi begitu basah dan licin.
Saat Gatot mencabut alat kelaminnya, tampak ada beberapa cairan itu yang mengalir keluar. Gatot meraupnya dengan tangan dan mengoleskannya ke bulatan pantat Aisyah yang masih menungging. Setelah basah dan mengkilat, ia kemudian menarik tubuh bugil Aisyah dan menaruhnya ke dalam pelukan.
”Aku mencintaimu, Aisyah!” bisik Gatot sungguh-sungguh dengan tangan melingkar di permukaan payudara gadis itu.
”Aku juga, Mas.” balas Aisyah lembut sambil menempelkan hidungnya ke bibir Gatot. Mereka tersenyum puas. Sesaat keduanya saling berciuman sebelum sama-sama tertidur pulas tak lama kemudian, bermimpi merajut berjuta-juta impian tentang masa depan.

Foto Jilboobs Terbaru

Kartun & Hentai Jilboobs Terbaru

Cerita Seks Jilboobs Terbaru